Jika rasa yang terdalam itu adalah ‘luka’, maka selamanya akan terluka.
Jika rasa yang terdalam itu adalah ‘benci’, maka rasa benci itu akan dibawa ke mana-mana.
Jika rasa terdalam itu ‘kemarahan’, maka kemarahan itu bisa muncul kapan saja.
Jika rasa terdalam itu ‘kehilangan’, maka rasa itu akan membuat kita makin sepi.
Jika rasa terdalam itu ‘penolakan’, maka rasa itu membuat pribadi itu jadi tidak berarti.
Bisakah kita yang terluka, benci, marah, kehilangan, dan yang merasa ditolak itu tersembuhkan?
Jika yang bertanya itu adalah dirimu sendiri, maka dirimu juga yang bisa menyembuhkannya.
Ketika kita bisa sembuh, ada satu kata yang terucap: ‘Miracle’. Kata ini adalah rasa terdalam, karena kita dikasihi oleh Tuhan dengan kasih yang tidak terbatas.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

