RedJoss.com – “Di mana bedanya rasa, ngopi di sebuah hotel berbintang dan di warteg?”
Rasa nikmat dalam kopi dari orang yang satu dengan yang lain tentu tidak sama.
Faktor yang mempengaruhi rasa sesungguhnya dari kopi adalah kekentalan, pahit-manisnya, aroma, dan seterusnya.
Ada juga orang yang bilang, ngopi di hotel itu lebih keren, prestis, cocok untuk berbisnis, dan suasananya wow. Sebaliknya, ngopi di kaki lima atau warteg itu cocok untuk wong cilik dan merakyat
Banyak ungkapan pengalaman dan cerita yang dirangkai dengan kata indah untuk melukiskan suasana ngopi.
Ngopi itu tidak sebatas sebagai teman bekerja, menunjang aktivitas, menemukan inspirasi. Ngopi juga sebagai gaya hidup.
Lalu, apakah rasa nikmat kopi yang sesungguhnya itu dipengaruhi oleh suasana, pahit manisnya hidup kita …?
Tidak! Rasa sejatinya kopi itu ditentukan bukan dari suasana tempat di mana kita minum, aroma, atau pahit manis dan kekentalan kopi yang pas. Juga bukan dari murah mahalnya harga kopi. Melainkan rasa kopi itu ditentukan oleh lidah dan inti dari segala rasa, yakni hati kita sendiri.
Rasa sejati dari kopi itu sama. Ibarat hidup kita sendiri. Untuk apa dan hendak dibawa ke mana.
Hidup kita adalah kita sendiri yang menentukan, bukan oleh orang lain. Ketika hidup ini dipengaruhi oleh keinginan, kita selalu merasa kurang dan tidak mengenal kata puas. Meskipun kita telah memiliki istana dan lautan emas permata.
Sebaliknya, ketika kita senantiasa mencukupkan diri dan mensyukuri hidup ini, kita tidak pernah merasa kekurangan. Karena kita tidak membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.
Bersyukur itu tidak mengenal tempat, kaya-miskin, atau senang-susah.
Bersyukur itu anugerah, ketika kita berani menerima kenyataan untuk menikmati hidup ini.
Dan hakekat sejati dari hidup ini sebenarnya tentang rasa. Dari rasa ke rasa yang mesti disyukuri & dinikmati.
Kita mampu menjadi penikmat yang baik, ketika kita mengolah rasa di dalam rasa dengan mengecap untuk merasakan nikmatnya.
Hidup ini semakin nikmat, ketika kita membagikan nikmat dan anugerah Allah itu kepada sesama. Hidup harmoni dengan saling mengasihi. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

