“Rasa bosan itu datang dari si sombong, ketika kita kehilangan pujian dan syukur kepada Tuhan.” -Mas Redjo
…
“Maaf, Pak… Mengapa tidak minta tolong anak pesan gofood?” tanya istri tidak enak hati, ketika melihat saya makan nasi sambal kecap dan kerupuk itu dengan lahap.
“Apa yang salah?” saya tersenyum. Istri jadi salah tingkah dan merasa bersalah. Karena acara kegiatan sosial yang padat dan waktunya molor itu membuat ia pulang telat. Sehingga tidak menyiapkan makan malam. Sejak menikah, saya tidak menuntut atau rewel. Makanan yang disajikan istri di meja makan itu selalu saya dinikmati penuh syukur.
Begitu pula makan nasi kecap itu hal biasa bagi saya. Pemandangan dan keseharian saya kecil, ketika di kampung.
Jika sesekali saya makan nasi kecap itu tidak sekadar nostalgia. Tujuannya agar kita tidak ‘bagai kacang yang lupa kulitnya’, meski sekarang hidup saya mapan.
Saya ingin melatih anak-anak agar tidak merengek-rengek minta dimanja kemudahan dan fasilitas. Tapi agar mereka belajar bersyukur untuk berjuang dan mandiri. Karena banyak orang yang hidup susah, dan jauh di bawah kami. Mereka agar tetap prihatin, rendah hati, dan peduli pada sesama.
Saya mengelus dada dan sedih. Ketika banyak orang kehilangan rasa bersyukur. Mereka mengeluh gaji kecil dan ingin hidup enak, tapi malas bekerja keras dan berjuang untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Mereka bosan makanan yang tidak enak, hidup melarat, sakit menahun yang tidak kunjung sembuh, bosan berdoa yang tidak segera terwujud, dan berjuta rasa bosan yang lain. Hidup ini seperti dipenuhi dengan keluhan, nyinyiran, tuntutan, dan komplain. Bahkan konyolnya, kita berani menggugat Tuhan agar menuruti kemauan kita!
Apa pun alasannya, sejatinya rasa bosan itu datang dari si jahat yang sombong. Kita kehilangan rasa bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan yang telah anugerahi hidup ini.
1001 rasa bosan yang membuat kita makin menjauh dari Tuhan, Sang Pencipta. Hasilnya berubah 180 derajat, ketika kita menjalani dan menikmati hidup ini penuh syukur.
Sejatinya, kita dianugerahi hidup ini agar taat dan setia pada kehendak-Nya. Tidak yang lain.
“Manunggaling kawula Gusti, sumangga Gusti.”
…
Mas Redjo

