Rasa bahagia itu sudah kurasakan. Sudah terbayangkan, karena aku akan berjumpa dengan keluarga, tetangga, dan sahabat. Berjumpa dengan mereka yang kukenal, mengenalku dan yang amat mengasihiku.
Rasa bahagia itu begitu nyata. Dirasakan pertama-tama, karena kita mempunyai kenangan yang indah dengan keluarga, tetangga, dan sahabat yang kukenal, yang mengenalku, dan yang amat mengasihiku.
Rasa bahagia itu memang harus dijaga, dipelihara dan terus-menerus ditumbuhkan. Karena, jika rasa bahagia itu tidak dijaga mudah diganti oleh rasa yang lain, yaitu kegelisahan. Rasa bahagia itu harus dipelihara, jika tidak akan diganggu oleh rasa yang lain, misalnya kesepian. Rasa bahagia itu harus terus-menerus ditumbuhkan, jika tidak bertumbuh akan berganti dengan rasa yang berlawanan, yaitu kesedihan.
Bahkan, kita harus mendoakan keluarga, teman, dan sahabat agar hidup bahagia dan dijauhkan dari yang jahat.
Aku berharap, semoga yang akan berjumpa denganku itu juga siap-siap menerimaku dengan hati yang bahagia pula. Sehingga tepat yang dikatakan oleh St. Paulus, bahwa “Yang berbahagia itu adalah langkah kaki yang membawa Kabar Baik.”
Sejatinya, hidup ini jadi amat istimewa, ketika dua pribadi yang berjumpa itu sama-sama merasakan kebahagiaan. Ada senyum, tawa, dan canda yang merupakan ekspresi dari kebahagiaan itu.
Tetap semangat dan jangan lupa bahagia.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

