| Red-Joss.com | Mengapa sisi yang rapuh dan patah itu yang sering diungkap tentang kisah hidup manusia?
Bahkan, ketika sisi yang rapuh dan patah itu yang disentil, kita cepat bereaksi.
Ada yang biasanya bereaksi, “aku sudah melakukan kesalahan besar”, “aku melakukan kebodohan besar”, “aku sungguh berdosa”, dan sebagainya.
Jika reaksi seperti itu kita simpan terus-menerus, dipastikan jiwa ini makin nelangsa, rapuh, dan patah.
Mengapa?
Karena pondasi hidup kita makin lemah dan keropos. Sebenarnya, iman kita mencoba untuk memulihkan yang rapuh dan patah itu, tapi kita merasa lemah dan tidak percaya diri.
Belum lagi, jika kita bertemu dengan teman yang senasib sependeritaan atau mereka yang berpikir negatif dan berputus asa. Sehingga kita jadi galau berjemaah.
Pertanyaannya: kapan kita bisa sembuh dari hati yang keropos, rapuh, dan patah ini?
Jawabnya: saatnya kita benahi dan perbaiki diri sendiri. Yang utama dan pertama adalah kita berdamai dengan diri sendiri. Untuk berani memaafkan, mengampuni, dan mendoakan mereka yang bersalah.
Dengan mengasihi sesama, kita mengasihi diri sendiri (Mat. 22: 39), dan bahagia.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

