| Red-Joss.com | Dalam suatu dialog imajiner, Tuhan menawari untuk mengabulkan satu permohonan saya. Apa pun yang saya minta akan dikabulkan-Nya.
Ketika saya tengah merenungkan dan menimbang-nimbang tawaran Tuhan, saya teringat tetangga yang kaya raya, tapi sombong dan suka meremehkan orang lain.
Tiba-tiba saya ingin menyainginya, lalu membeli mobil balap sebagai hadiah untuk anak. Tapi saya kaget, manakala saya menyadari hal itu. Jika begitu, apa bedanya saya dan dia, jika kaya untuk dipamerkan dan disombongkan?
Saya lalu membayangkan, jika saya jadi pejabat tinggi yang disegani. Saya pasti bakal peroleh sejuta kemudahan dan pelayanan super istimewa.
Saya juga akan membela rakyat agar hukum tidak tajam ke bawah, dan tumpul ke atas. Tapi hukum harus ditegakkan, dan adil. Itu pasti keren, dan wow!
Faktanya, saya tidak mempunyai bakat jadi pejabat yang tegas dan berpengaruh. Sejak muda saya aktivis di bidang pelayanan sosial, dan hati saya mudah iba terhadap penderitaan atau nasib orang lain.
Selain itu, saya juga melihat bukti, bahwa orang yang hidupnya menomorsatukan harta, tahta, dan wanita itu banyak yang jatuh terpuruk. Keluarga mereka juga berantakan.
Lalu, permohonan apa yang cocok untuk saya?
Saya ingin berbagi dan menolong banyak orang. Memanusiawikan manusia. Saya akan memberi mereka kail, tidak umpannya agar mereka sejahtera dan mandiri.
Hati saya tergerak untuk segera mewujudkan hal itu. Saya juga ingin mendirikan yayasan untuk menaungi dan mensejahterakan mereka.
Ketika saya tengah menimbang dan merenungkan plus minusnya dari beberapa permohonan itu, saya ditegur, atau tepatnya diingatkan oleh hati nurani sendiri.
Nasihat Guru Bijak itu menggedor pintu kesadaran saya, “Jika kau boleh minta pada Tuhan, mintalah yang kau sendiri tidak mampu melakukan hal itu.”
Lama, teramat lama saya untuk mampu mencerna dan memahami nasihat Guru Bijak itu. Tapi intinya adalah, sesungguhnya Tuhan telah sediakan segalanya di dunia ini untuk dikelola dengan bijaksana.
Jika ingin kaya raya, berarti saya harus bekerja keras untuk gemi lan setiti. Mengelola potensi diri untuk berjuang dan bertekun dalam doa guna mewujudkan hal itu. Karena, sesungguhnya otak manusia itu luar biasa, kita yang tentukan dan arahkan tujuan untuk mencapainya.
Sesungguhnya, harta duniawi itu mudah hilang dicuri orang, bencana alam, musibah, atau dimakan ngengat. Tapi belas kasih Tuhan tiada berkesudahan.
Sesungguhnya rahmat peneguhan Tuhan itu yang saya mohonkan kepada-Nya agar saya teguh dan setia dalam menjalani hidup ini.
Ketika berada di atas dan sukses agar saya tidak lupa diri, sombong, serta mengingkari-Nya. Begitu pula di saat jatuh terpuruk agar saya sabar, tabah, dan senantiasa bersyukur.
Selalu mohon rahmat penuguhan Allah agar saya setia pada-Nya. Karena saya ini milik-Nya.
…
Mas Redjo

