“Di mana Adam ragu, Kristus percaya. ketika kita jatuh, kerahiman-Nya lebih besar siap menjangkau.”
Dalam Kitab Kejadian, Allah membentuk Adam dari tanah dan memahkotainya dengan kemuliaan. Ia adalah anak-Nya. Ia hidup dalam keintiman dengan-Mu.
Ketika firman-Nya diputarbalikkan, keraguan itu masuk. Manusia itu jatuh. Ketakutan lahir dan manusia bersembunyi.
Dalam Injil Matius, kami melihat Yesus di padang gurun. Roh Kudus sendiri yang menuntun-Nya ke sana. Bukan untuk menjatuhkan-Nya, melainkan untuk menyatakan siapa Dia sebenarnya.
Si pencoba berkata: “Jika Engkau Anak Allah…” Tapi Yesus tidak membuktikan diri. Ia tidak memaksa mukjizat dan mencari kemuliaan instan. Ia percaya penuh kepada Bapa.
Melalui satu orang, dosa masuk ke dunia. Tapi melalui satu Pribadi: Yesus Kristus, rahmat berkuasa dan kehidupan dipulihkan, seperti yang ditegaskan Rasul Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma.
Ya, Allah, kami mengakui sering mengikuti pola Adam. Kami ragu dan ingin mengatur segalanya sendiri. Kami lupa, bahwa kami dikasihi.
Namun Kerahiman-Mu lebih besar dari kegagalan kami. Pulihkanlah dalam kami sukacita keselamatan. Tanamkan kembali identitas kami sebagai anak-anak-Mu.
Saat godaan itu datang, ingatkan kami, bahwa kami tidak sendirian. Ajari kami berkata seperti Yesus: “Abba”, “Papa”, “Papi”, “Daddy.” Ajari kami percaya, bahkan ketika hidup terasa seperti padang gurun.
Di masa Prapaska ini, bukan hanya dosa yang kami tinggalkan, melainkan juga keraguan terhadap kasih-Mu. Yesus, Adam yang baru, menangkanlah hati kami kembali kepada Bapa.
Amin.
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

