Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Yang sering terjadi
adalah persoalan
pendidikan hendak
diatasi dengan tambal
sulam kurikulum
dengan pergantian Menteri
berarti perubahan kebijakan.”
(Idi Subandy Ibrahim)
Pendidikan: Pondasi Dasar sebuah Bangsa
Tidak pelak dan tak dapat dibantah, bahwa aspek pendidikan merupakan sebuah pondasi dasar paling penting dalam rangka membangun kemanusiaan di dalam tubuh sebuah bangsa beradab.
Mengapa? Bukankah lewat jalur pembangunan aspek kemanusiaan, maka yang terjadi di dalam tubuh bangsa itu, ibarat kita sedang membangunkan raksasa tidur. Karena bukankah lewat proses edukasi (educare), maka seluruh potensi besar dari seorang anak manusia akan ditarik ke luar?
Utopia Pendidikan Manusia Unggul
Kita awali tulisan ini dengan pernyataan menyesakkan dada: kita kecewa dengan arah perjalanan pendidikan bangsa. Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional, potret buram wajah pendidikan muncul dalam berbagai kontradiksi.
Di tengah utopia mengejar cita-cita “manusia unggul” (unggul apanya?), siswa di daerah, seperti Nusa Tenggara Timur, masih berkutat dengan urusan kemampuan baca-tulis dan lemahnya sinyal internet. Sementara jajak pendapat Kompas memberikan gambaran politik kebijakan pendidikan di Indonesia yang cenderung masih rapuh (Kompas, 5/5/2025), demikianlah sebuah Analisis Budaya, oleh Idi Subandy Ibrahim berjudul, “Utopia Pendidikan Manusia Unggul,” Kompas, Sabtu, 10/5/2025.
Dengan tanpa mengingkari kemajuan yang telah diraih, namun di sisi lain, masih saja ada budaya perundungan, pelanggaran etika ilmiah, jiplak-menjiplak, dan perjokian terjadi dalam berbagai jenjang dan modus. Kemudian tawuran dan kenakalan sebagian anak didik hendak diatasi dengan pendekatan militer! Demikian tulis Idi Subandy.
Semua realitas pahit pedih ini ujung-ujungnya toh yang jadi korban justru para murid dan Guru sebagai ujung tombak di ranah edukasi.
Antara Indonesia Emas ataukah Indonesia Cemas
Ada pun sebuah potret riil hal kacaunya sistem pendidikan di Indonesia, lihat saja keterpurukan pendidikan kita, jika dibanding dengan pendidikan di tingkat negara-negara Asean. Malaysia khususnya, yang dulu justru mengimpor Guru dari Indonesia. Tapi kini, betapa bangganya negeri jiran itu, karena Malaysia justru jadi negara incaran calon mahasiswa kita untuk belajar di sana.
Berdasarkan ulasan di atas ini, sanggupkah kita sebagai bangsa untuk mampu berbangga hati menjelang satu abad Indonesia merdeka? Dengan perkataan lain, sekeping emas ataukah justru segudang cemas yang akan kita tuai kelak?
Sebuah Refleksi Akhir
Apa, mengapa, dan dari manakah sumber asal serta faktor penyebab dari seluruh petaka di bidang edukasi ini? Dari manakah datangnya monster drakula sebagai penyebab amburadulnya sistem serta lajunya proses pendidikan di negeri kita?
Jangan-jangan sang dalang dari seluruh kegagalan itu, justru bercokol dan bersumber dari betapa kacaunya nurani tulus kita?
Vivere tota vita discendum est
(Dalam kehidupan perlu belajar seumur hidup!)
…
Kediri, 13 Mei 2025

