| Red-Joss.com | Dalam sebuah wawancara pada bulan Agustus 2023, Rajesh Mohur membagikan kisah perjalanan rohaninya dan bagaimana ia mengenal Acutis, remaja yang ahli dalam pengkodean komputer, orang milenial pertama yang dibeatifikasi dalam Gereja Katolik dan pelindung Hari Orang Muda Sedunia.
Mohur dibesarkan di sebuah pulau kecil di Samudra Hindia, lepas pantai Afrika, sekitar 500 mil di sebelah timur Madagaskar. Sebagaimana sebagian besar penduduk Mauritius, Mohur beragama Hindu. Sehari-hari ia berbicara mempergunakan Bahasa Kreol dan mempelajari Bahasa Sansekerta, bahasa kuno yang digunakan dalam Kitab Suci Hindu.
Keluarga Mohur berasal dari kasta Brahmana, kasta tertinggi dari empat kasta dalam masyarakat Hindu. Ayah Mohur adalah seorang pendeta Hindu yang menjabat sebagai Ketua Masyarakat Hindu di Mauritius.
Mohur mengenang: “Sejak dini (ayahku) biasa mengajariku semua doa Hindu … kitab suci, kitab suci India.”
Pada usia 16 tahun, Ayah Mohur mengirimnya ke India untuk melanjutkan pendidikan di Gujarat, kota tempat Mahatma Gandhi dilahirkan. Selama berada di India, Mohur makin mendalami budaya dan praktik keagamaan Hindu.
“Aku telah mengunjungi banyak pura. Aku bertemu banyak guru di pusat meditasi, dan aku bertemu dengan para swami,” kata Mohur.
“Aku bersaksi tentang semua tempat itu. Penuh kedamaian, kamu tahu kan. Bagus. Tetapi hidupmu tidak berubah … Aku sedang mencari Allah yang hidup.”
‘‘Perjalananku selalu untuk menemukan sesuatu yang … berasal dari diriku sendiri, jauh di lubuk hati, tidak dapat kupenuhi.”
Setelah diterima di sebuah universitas di Rajasthan, Mohur akhirnya tinggal di India. Di sana ia meraih gelar Sarjana Fisika.
Ketika berencana untuk mendaftar di program master di Inggris, ia menerima berita, bahwa Ayahnya meninggal dunia. Karena keluarganya mengalami masalah keuangan, ia merasa harus kembali ke Mauritius untuk membantu keluarganya.
Mohur makin mendalami doa-doa Hindu setelah kematian Ayahnya.
Setiap hari ia berdoa, sering kali dengan rasa marah dan getir. ‘Aku selalu berdoa: “Mengapa aku berada dalam situasi seperti ini?’’ katanya.
Saat itu, pekerjaan sulit ditemukan di Mauritius. Mohur mendengar, bahwa mendapatkan visa kerja di Italia tidak seketat di beberapa negara lain. Ia memutuskan untuk pindah ke sana guna mencari pekerjaan pada pertengahan 1980-an. Setelah lebih dari satu dekade tinggal dan bekerja di Italia, pada Desember 1995, Mohur mulai bekerja pada keluarga Acutis untuk membantu mengurus Carlo.
‘‘Lalu aku bertemu Carlo, seorang anak kecil,’’ kenang Mohur. Kesan pertamanya tentang Acutis, yang memiliki rambut ikal coklat, ia tampak seperti malaikat kecil yang terlihat dalam lukisan dan patung di sekitar Milan. Pada hari kedua ia bekerja untuk keluarga itu, Mohur ingat, bahwa Carlo kecil menghampirinya dengan senyum lebar dan sebuah hadiah sepotong permen karet.
Pada hari-hari hujan, Acutis terkadang menonton kaset video kartun bertema Alkitab dan kehidupan orang-orang kudus bersama Mohur, yang menonton dengan sarat minat, karena ia belum banyak mengenal agama Katolik.
Setelah Acutis menerima Komuni Pertama pada usia 7 tahun, Mohur rela berjalan bersamanya ke Gereja di dekat rumahnya untuk menghadiri Misa atau berdoa dalam perjalanannya menuju dan dari sekolah.
Mohur mengamati bagaimana perilaku Acutis muda berubah, ketika ia memasuki Gereja. Saat Acutis berdoa di depan Tabernakel, Mohur duduk dengan tenang di belakang dan memperhatikan anak laki-laki itu saat ia berdoa dengan sungguh-sungguh.
“Perilakunya berubah saat ia berada di dalam Gereja, dengan segala hormat. Ia tahu, bahwa ada sesuatu yang berbeda di tempat Yesus tinggal … Hal itu menyentuh hatiku … saat aku melihat perilaku Carlo,” katanya.
Acutis ingin sekali berbicara dengan Mohur tentang hal-hal yang ia cintai: Surga, Misa, dan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia menjelaskan semuanya dengan sangat manis,” kata Mohur.
“Ia selalu berbicara tentang Ekaristi, tentang Yesus, bagaimana Ia menderita bagi kita … mengurbankan nyawa-Nya bagi kita,’’ kata Mohur. ‘‘Carlo, ia mengatakan kepadaku, bahwa … ke mana pun kamu pergi, kamu dapat menemukan Yesus hadir dalam tubuh, jiwa, dan darah (di dalam tabernakel).’’
Mohur juga mengamati kepedulian dan perhatian Acutis terhadap orang lain. Ia mengatakan, bahwa Carlo kecil pernah mengumpulkan mainannya, termasuk beberapa hadiah Natal yang bagus pemberian kakek-nenek dan kedua orangtuanya, dan meminta Mohur untuk menemaninya ke taman untuk menjual mainannya dan menyumbangkan uangnya bagi orang miskin.
“Ia mengumpulkan uang, dan ada beberapa orang miskin tergeletak di depan Gereja. Mereka tidur di lantai selama musim dingin. Cuacanya cukup dingin … Ia berkata, bahwa mereka menderita, kamu tahu kan. Mereka butuh bantuan,” kata Mohur.
“Ketika aku melihat tindakan Carlo, kamu tahu kan, anak kecil seperti itu, aku pun jadi percaya.” Acutis membantu Mohur mempelajari cara berdoa Rosario dan mengajaknya untuk berdoa bersamanya dan kedua orangtuanya.
“Ia memiliki kebiasaan… mendaraskan doa Rosario setiap malam sebelum tidur,’’ kenang Mohur.
Acutis memberitahu Mohur, bahwa seorang dapat berdoa Rosario tanpa harus dibaptis, tapi hanya umat Katolik yang taat yang dapat menerima Ekaristi. Acutis menjelaskan, bahwa Ekaristi adalah puncak kasih dan kebajikan diperoleh melalui kehidupan sakramental.
“Ia hafal Katekismus Gereja Katolik dan menjelaskannya dengan sangat cemerlang, sehingga ia berhasil membuatku bersemangat tentang pentingnya sakramen,” kata Mohur.
“Jadi, perlahan-lahan … ia biasa memberitahuku tentang pentingnya baptisan dan banyak hal lainnya juga,” imbuhnya. “Semua pengalaman itu mengubah hidupku. Aku dapat melihat Allah yang hidup.”
Empat tahun setelah pertemuan pertamanya dengan Acutis, Mohur dibaptis. Saat itu usianya hampir 30 tahun, dan sebagai orang dewasa yang masuk Gereja Katolik, ia langsung menerima semua sakramen inisiasi Katolik: Sakramen baptis, Komuni Pertama, dan Sakramen Krisma dalam Misa di paroki tempat Acutis berdomisili pada tahun 1999.
Setelah peristiwa itu, keluarga Acutis mengadakan pesta untuk Mohur dan teman-temannya, membagikan permen dan makanan ringan di apartemen mereka. Mohur membiarkan Carlo memilih tempat makan malam. Ia berkata bahwa Carlo mengusulkan:
‘‘Ayo kita pergi ke restoran Cina hari ini, karena ini hari yang istimewa.’’
Mohur membalas dengan candaan: ‘‘Bagiku, ini istimewa, tapi lebih istimewa lagi bagimu karena kamu suka makanan Cina.’’ Terlepas dari candaannya, Acutis kemudian mengatakan kepada kedua orangtuanya: ‘‘Banyak orang yang tidak menyadari betapa besarnya karunia menerima baptisan.’’
Setelah menerima sakramen baptis dan komuni pertama, Mohur selalu ikut Acutis menghadiri Misa harian, bahkan ikut serta secara penuh dalam komuni dan bukan hanya mengamati.
Ketika Ibu Mohur datang dari Mauritius untuk mengunjungi putranya di Milan beberapa tahun kemudian, Acutis mengundang Ibu Mohur untuk menghadiri Misa bersama mereka; setelah itu, Ibu Mohur berkata, bahwa ia tidak mengerti apa pun. Selain tidak begitu mengenal agama Katolik, Ibu Mohur tidak bisa berbahasa Italia, jadi Acutis berbicara dengannya dalam bahasa Inggris.
Ia duduk di dapur bersama Ibu Mohur dan bercerita kepadanya dalam bahasa Inggris tentang Yesus dan iman Katolik. Ia menceritakan kepadanya kisah penampakan Perawan Maria di Lourdes, Perancis, dengan cara yang begitu memikat sehingga Ibu Mohur ingin mengunjungi tempat ziarah tersebut. Dengan bantuan keluarga Acutis, Ibu Mohur tinggal di Lourdes selama sepekan.
Ketika kembali ke Mauritius, Ibu Mohur meminta untuk dibaptis. Setelah dibaptis, ia mengunjungi orang sakit di Mauritius dan berdoa bersama mereka, menggunakan air suci dari Lourdes.
“Itulah daya magis Carlo,” kata Mohur. “Ia dapat mengubahku dan juga Ibuku.”
…
Bapak Peter Suriadi

