“Perbuatan baik dan amal kasih yang diingat-ingat itu pamrih. Tapi perbuatan dosa yang dilupakan itu penyakit jiwa yang mematikan.” -Mas Redjo
Karena tidak ingin dicap pamrih, pura-pura, atau berkamuflase, saya dengan senang hati mengganti nama jadi: Ikhlas. Tujuannya agar hidup saya berguna bagi sesama. Hidup yang bermakna.
Setiap kali melakukan hal baik dan positif, saya tidak mengingatnya lagi. Tapi langsung melupakannya.
Dalam melakukan kebaikan dan amal kasih itu juga tanpa sekat. Ditujukan pada siapa saja. Saya melakukan dalam senyap dan tanpa publikasi, karena tidak demi pujian dan pencitraan. Tapi didasari hati yang mengasihi dan ikhlas.
Begitu pula sebaliknya. Setiap kali berbuat salah, tercela, atau khilaf, saya mohon untuk diingatkan agar sadar diri untuk meminta maaf, memperbaiki, dan berjanji tidak mengulanginya.
Mohon diingatkan, karena kadang-kadang saya berbuat salah tanpa disadari. Bagi saya, berani berbuat itu juga harus berani bertanggung jawab. Karena itu sifat ksatria. Saya tidak mau kehilangan teman atau mencari musuh dengan perkataan atau perilaku buruk.
Saya mempunyai pengalaman yang buruk, karena perilaku jelek saya. Dulu, ketika berbuat salah, saya mencoba cuwek, tidak peduli, dan bahkan merasa benar. Saya tidak meminta maaf. Akibatnya, teman itu berubah sikap, menjauh, dingin, atau jadi musuhan. Perasaan saya jadi tidak tenang, meski berpura-pura bersikap baik dan serasa tidak ada masalah.
Begitu pula saat saya ingkar janji, tanpa memberi tahu atau meminta maaf pada teman. Berhutang tanpa mempunyai keinginan melunasi, bahkan menghindar dan menjauhi orang yang dipinjami. Korupsi uang tender perusahaan tanpa merasa bersalah, karena semua dilakukan secara berjamaah.
Ketika saya berpura-pura pikun dan merasa semua ini bersih serta baik-baik saja, ternyata saya tidak bisa membohongi hati sendiri. Perbuatan jahat dan dosa itu menghantui hidup ini. Jiwa saya tidak tentram, tiada damai, dan tersiksa sekali.
Tapi ajaib dan mukjizat! Ketika saya berani akui salah, berdamai dengan diri sendiri, meminta maaf pada mereka secara baik-baik, dan memohon belas kasih Tuhan, hati dan jiwa saya merasa nyes serta lega sekali.
Hikmat perbuatan salah adalah saya belajar untuk mengendalikan diri dalam berbincang, bersikap, dan berperilaku agar tidak melukai atau menyinggung perasaan orang lain.
Kini saya lebih banyak mendengar ketimbang berbicara; berpikir jernih ketimbang terburu-buru berbuat salah dan aib; serta menyertakan Tuhan dalam setiap langkah agar saya dijauhkan dari pencobaan.
Saya sadar sesadarnya, bahwa buah-buah dari dosa adalah maut. Karena itu dengan penyertaan dan bimbingan Roh Kudus, saya terus berjuang untuk bersikap jujur dan benar agar hidup saya berkenan bagi Tuhan.
Mohon doakan saya.
Mas Redjo

