Aku mencoba mengakrabi, tapi aku seperti kehilangan arti. Jejak kisah yang kupahat di dinding kenangan telah memudar digerus mimpi. Adakah aku mesti menidurkan rindu istirah di keasingan diri?
Tidak jemu aku menyusuri sejuta misteri yang menenggelamkanku di lorong nyanyian bocah yang berceloteh mandi di kali. Tak juga kutemukan cinta selayang pandang.
Gamang melayari hasrat untuk menggelar srawung. Adakah mesti digelar sepanjang hari, minggu, bulan, hingga menuju tahun akhir perjalanan?
Biarlah takdir yang memutuskan. Tak kubiarkan mimpi itu meliar di kesunyian.

