Melalui Nabi Yesaya, Tuhan menegur umat yang berpuasa secara lahiriah, tapi tetap hidup dalam ketidakadilan. Tuhan rindu puasa yang membebaskan orang tertindas, membagikan roti kepada yang lapar, dan membuka ikatan belenggu (bdk. Yes. 58: 1-9a).
Puasa sejati itu bukan sekadar menahan diri dari makanan, melainkan menyentuh kehidupan sesama. Dalam konteks kita sekarang, puasa berarti melawan budaya egois, kepalsuan, dan ketidakpedulian sosial.
Dalam Injil, Yesus menjawab pertanyaan murid Yohanes tentang puasa. Ia menegaskan, bahwa selama Sang Mempelai hadir, para murid tidak perlu berpuasa, tapi akan tiba waktunya mereka harus berpuasa (bdk. Mat. 9: 14-15). Puasa, dalam terang Yesus, adalah bentuk kerinduan untuk hidup lebih dekat dengan Allah dan sesama. Ini bukan kewajiban semata, melainkan ungkapan kasih dan pertobatan hati.
Masa tobat itu bukan masa untuk tampil suci di hadapan orang lain, melainkan masa untuk berbalik dari sikap masa bodoh dan mementingkan diri sendiri. Kita diajak untuk menjadikan puasa sebagai sarana solidaritas; menyisihkan sebagian dari yang kita miliki untuk mereka yang berkekurangan, dan menciptakan ruang di hati bagi belas kasih.
Tuhan, ajarilah kami berpuasa bukan hanya dari makanan, melainkan juga dari sikap yang melukai sesama. Amin.
Ziarah Batin

