“Kendalikan mulut ini. Tidak untuk bicara. Tapi kita dituntut banyak mendengar agar rendah hati dan bijaksana.” -Mas Redjo
Karena kita mempunyai dua buah daun telinga dan sebuah mulut. Tujuannya agar kita sedikit bicara, tapi banyak mendengar. Ketimbang banyak bicara, lebih bijak banyak bekerja untuk memaknai hidup ini.
Karena itu pula, bahwa idiom mulut setajam pedang bermata dua itu saya ganti dengan mulut selembut hati. Alasan saya tegas dan jelas, sejatinya yang menajiskan kita itu bukan yang masuk ke dalam mulut, melainkan yang ke luar dari mulut! Kita harus memiliki hati yang bersih dan suci, sehingga yang ke luar dari mulut kita adalah ungkapan kasih!
Makna puasa itu tidak sekadar untuk mengendalikan nafsu makan minum semata, tapi yang utama adalah kita mengendalikan nafsu kenikmatan daging!
Dengan berpuasa kita diajak untuk menghidupi komitmen agar kita konsekuen dan konsisten dalam memaknai puasa, yakni menjalani hidup bertobatan untuk menuju ke arah yang makin baik dan benar.
Puasa bisu yang sedang saya jalani itu tidak identik berbungkam mulut rapat-rapat, tidak bicara sepanjang hari, atau jika bicara mengunakan bahasa isyarat maupun tulisan. Tapi saya bicara seperlunya, dan jika itu penting sekali.
Kesadaran untuk berpuasa bisu, tepatnya sedikit bicara itu terus menerus saya hidupi dalam perilaku keseharian. Tujuannya, berbicara itu tidak mengedepankan emosi atau perasaan, tapi menggunakan hati, karena mengasihi.
Jika kita ingin diperlakukan dengan baik, hendaknya kita memperlakukan orang itu dengan baik lebih dulu (Matius 7: 12).
Masa Prapaskah: jalan pertobatan untuk menyangkal diri agar hidup kita berkenan bagi Tuhan.
Mas Redjo

