“Life is short, do stuff that matters.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Menunda itu enak sementara, tapi susah kemudian. Kita semua pernah menunda-nunda sesuatu: pekerjaan, tugas, laporan, usaha, rencana, bahkan menunda berbuat baik. Kalau hal itu terlalu sering dilakukan, awas bahaya ‘prokrastinasi’.
Prokrastinasi sendiri adalah kebiasaan menunda-nunda sesuatu yang harus dilakukan. Alasannya, masih ada hari esok, santai saja, dan masih punya banyak waktu. Sebenarnya bukan, karena tidak bisa mengatur waktu. Tapi sering karena takut gagal, terlalu perfeksionis akhirnya tidak berbuat apa-apa.
Selain itu prokrastinasi terjadi karena ‘overload’ pekerjaan. Kita bingung, mana dulu yang harus dikerjakan. Akhirnya banyak pekerjaan yang ditunda, nikmat sih sementara, tapi tugas itu harus tetap diselesaikan.
Stop prokrastinasi dengan cara ini. Pertama: ubah pola pikir kita. Dari ‘harus’ mengerjakan, menjadi ‘mau’ mengerjakan. Sederhana, tapi amat besar pengaruhnya. Ingat Tuhan memilih yang mau bukan yang mampu. Kalau memang sangat sulit, rendah hatilah minta tolong yang lebih ahli.
Kedua: lupakan kesempurnaan. Tidak ada kok yang sempurna, tapi mulai dulu aja. Kerjakan saja, toh masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Di balik orang sukses dan handal pasti banyak eksperimen, kesalahan, dan kegagalan. Lebih baik memulai dan menyelesaikan daripada tidak mulai sama sekali.
Ketiga: optimalkan potensi dan talenta, tapi minimalkan gangguan. Jauhkan distraksi godaan medsos. Kuatkan tekad, ‘silence aplikasi’ medsos sejenak. Abraham Lincoln pernah bilang: “When I do good, l feel good, when I do bad, I feel bad.” Berilah apresiasi atas keberhasilan yang kita dapatkan, untuk rekreasi, nonton film, makan, atau rileks.
Ingat prokrastinasi itu tidak di luar kendali kita. Tapi kita bisa memilih menunda atau maju. Kita dapat melakukan hal itu!
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

