Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda tidak akan terbang tinggi bersama rajawali, jika Anda mau berjalan dengan serombongan kalkun.”
(Daud I. Ufi)
Kamu Milik Orang Lain dan Orang Lain pun Milik Kamu
Ternyata hidup saya ini, tidak milik saya sendiri, tapi juga milik orang lain. Semisal, aroma harum dari sabun mandi yang Anda pakai, saya pun turut menghirufnya. Bau tidak sedap dari cucuran keringat Anda pun memuakkan saya. Aroma harum dari secangkir kopi milik Anda, bahkan tetangga di sebelah rumah pun seolah-olah turut mencicipinya. Juga seulas senyum tulus yang Anda pancarkan ke udara itu mampu mengangkat jiwa resah saya, untuk setidaknya sesaat turut merasakan kebahagiaan. Bahkan seruan teriakan kasar dan makian dari bibir Anda, turut meresahkan jiwa sunyi saya.
Sejatinya, bahwa kita ini tidak pernah hidup seorang diri, sekalipun kita adalah orang asing bagi orang lain.
(1500 Cerita Bermakna)
Apa itu Prinsip Resiprositas?
Prinsip ‘resiprositas’ adalah suatu prinsip, bahwa di dalam hidup bermasyarakat yang ada dan terjadi adalah prinsip ‘saling memberi dan saling menerima’ (to take and to give).
Apa yang Terjadi?
Di balik penerapan model prinsip hidup ini, yang terjadi, justru suatu aktus atau tindakan ‘saling’ yang akan berdampak pada. Maka, prinsip ini disebut ‘resiprositas.’
Dalam prinsip hidup ‘saling memberi dan menerima’ secara filosofis, justru mau menekankan adanya suatu “keseimbangan dan sikap saling kebergantungan” dalam relasi antar sesama manusia.
Sedangkan dari aspek sosial, lewat proses ini, secara tidak langsung, kita telah membangun sebuah komunitas harmonis, ideal, dan manusiawi. Bukankah hal ini merupakan sebuah tujuan utama dari kehidupan umat manusia secara mondial?
Refleksi
“Si Communiter Dividimus, Vita Nostra Magis Significativa Fit”
“Jika kita saling berbagi, maka hidup kita pun akan kian bermakna”
“Hendaklah mereka melakukan kebaikan dan jadi kaya dalam kebaikan, serta suka memberi, dan membagi dengan orang lain.”
(1 Timoteus 6:18)
Kediri, 24 Maret 2026

