Salah satu kelemahan kita adalah kebiasaan menebak-nebak atau menafsirkan sesuatu. Konflik itu mudah terjadi, ketika kita menebak-nebak dan menafsirkan sendiri.
Apalagi, jika kita hanya menebak atau menafsirkan kata, kalimat, atau pendapat tertentu.
Apalagi harus dibarengi dengan bersumpah-sumpah segala. Kita bisa terjebak sendiri oleh kata-kata yang dibuat, disusun, dan ungkapan yang pernah kita ucapkan.
Bagi yang sudah bertahun-tahun mengenal saja bisa terselip lidah, dan tidak terbayangkan bagi mereka yang baru mengenal itu jauh lebih tidak mudah. Itulah sebabnya, klarifikasi itu penting dan selalu membantu kita daripada sekadar menebak-nebak dan menafsirkan sendiri.
Sesungguhnya, orang yang paling berbahaya itu yang selalu curigaan. Orang yang curigaan itu mudah gelisah dan paling sibuk dalam hidup ‘bertetangga, berteman’ dan hidup di dunia.
Sekarang ini, banyak orang mudah berteman dan juga mudah untuk meninggalkan. Mudah akrab dan mudah pula terpisahkan. Orang mudah kagum dan cepat pula membenci. Apalagi jika komunikasi itu hanya mengandalkan ‘media’.
Itulah sebabnya, perjumpaan selalu jadi saat yang mahal. Sebab lewat perjumpaan itu, kita sungguh mengenal dan tahu pribadi seseorang.
Jika dirangkum ada 4 kata kunci ini: “System, Path, Theory and Culture.” Jika kita mau jadi pribadi yang benar-benar percaya diri, keempat hal itu harus jadi keyakinan kita.
‘System’ – Ini dibangun oleh waktu yang lama. Dimulai dari kebiasaan, lalu jadi sikap, terus menguat jadi keutamaan, nilai dan akhirnya karakter. Kita sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa mengenal karakter sendiri.
‘Path’ – Ini dilewati dengan jatuh bangun, “trial and error.” Kesempurnaan itu berproses. Bahkan, yang sempurna itu belum bisa disebut, ketika belum mencapai pada puncaknya waktu.
‘Theory’ – Ini adalah jalan pembaharuan terus-menerus. Mengikuti putaran jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Orang bisa beradaptasi di waktu dan tempat tertentu. Orang bisa berjumpa di suatu tempat dan waktu tertentu. Sekarang, dibantu dengan komunikasi modern, bisa diluaskan, tapi tetap ada batasan waktunya. Hidup ini bisa dibongkar-pasang, tapi dasar bangunannya harus tetap sama dan kuat.
‘Culture’ – Ini budaya dan tradisi yang sudah diwariskan. Sekarang budaya yang terjadi benar-benar berubah. Memang budaya persaingan itu terasa sekali. Jika kita hanya ‘ublek’ soal baperan, wah, cara dinamika hidup kita bakal terlambat maju.
Diingatkan oleh Tuhan Yesus, memang banyak yang pintar menebak tanda-tanda zaman. Tapi yang penting itu justru dilupakan, yaitu membuka diri pada hadirnya keselamatan.
Apakah kita sungguh bisa menebak atau menafsirkan hadirnya Tuhan? Salah!
Hadirnya Tuhan itu tidak bisa ditebak atau ditafsirkan saja, tapi hanya bisa dialami. Kapan itu? Kita sendiri yang harus mengatur waktunya dengan Tuhan.
Sekadar mengingatkan, “jangan sampai terlambat, nanti kita ketinggalan.”
Rm. Petrus Santoso SCJ

