Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”
(Amsal 14 : 29)
…
| Re-Joss.com | Mungkin kita pernah mendengar sentilan pedih berikut ini, “Jangan sekali-kali kau nyalakan si sumbu pendek itu, awas nanti kebakaran.”
Atau sebaliknya, mungkin juga kita pernah mendengar ucapan tentang pentingnya kesabaran, “Rahmat sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan, dan kekecewaan. Tapi, kalau kita sabar, kita segera akan melihat bentuk aslinya,” demikian tutur Yosef Adison.
Ya, ke mana pun kaki ini melangkah dan di mana pun berada, tentu kita akan berhadapan dengan kedua figur ini. Antara si sumbu pendek dan si selembut salju.
Kedua perangai yang saling bertolak belakang ini, justru sudah menjadi hiasan hidup kita. Itulah, bunga-bunga hidup, kata orang.
Sang penyabar, dikatakan sebagai kekasih Tuhan. Karena kesabaran itu adalah sifat khas Tuhan. Masih ingatkah kita dengan ucapan pujian dan kekaguman, “Dia yang maha sabar serta besar kasih setia-Nya?”
Ya, kehidupan di dunia dan isinya, laksana di dalam taman bunga, jika kita berada bersama sang penyabar sejati itu. Sebaliknya, hidup kita bagaikan dipanggang api, saat berada di tengah kerumunan sang sumbu pendek.
Sungguh berbahagialah, jika kita dikaruniai kesabaran sejati. Kita bagaikan madu lebah. Isi rumah kita damai sentosa. Istri dan para anak akan segar bagaikan taman yang diairi. Juga para tetangga akan mengitari meja perjamuan kita.
Semoga kita adalah sang penyabar sejati itu, karena bukankah, kita juga sang kekasih Tuhan yang sungguh disayangi-Nya?
…
Kediri, 27 Oktober 2023

