Hidup bersama dengan orang lain itu kita dituntut peka. Kepekaan itu sangat menentukan, karena dari kepekaan itu kita benar-benar bisa menempatkan diri dan beradaptasi dengan baik. Sehingga kita mudah diterima dan menerima orang lain.
Coba, jika kita bersikap kaku. Hidup seperti itu membuat kita merasa bosan, apalagi yang lain. Tidak ada variasinya. Mungkin kita merasa benar dengan prinsip ini. Tapi belum tentu bagi orang lain.
Biasanya tanda-tanda orang yang tidak menyenangi kita itu mudah dirasakan, dikenali, dan dilihat. Mereka tidak senang itu bisa dari kata-kata, sikap, dan perilaku kita.
Kepekaan itu memberikan warna untuk suatu komunikasi, relasi antar pribadi. Adanya kepekaan itu akan menghasilkan komunikasi yang mudah dimengerti. Kita dituntut untuk jadi seorang komunikator yang baik dengan mengasah kepekaan itu terus-menerus.
Mata, telinga, mulut, pikiran, dan hati itu harus ‘hidup’. Artinya, bisa mengirimkan pesan untuk hal-hal yang terjadi di sekitar kita, dengan siapa kita sedang berhadapan dan yang sedang dibicarakan.
Jangan sampai kita dibilang: “ini orang tidak nyambung.” Atau yang sering terjadi, “ini orang bertanya, tapi pertanyaannya tidak penting banget,” dan seterusnya.
Jadilah peka dan komunikatif!
Rm. Petrus Santoso SCJ

