Ketika Allah memberi Salomo kesempatan untuk meminta apa pun, ia tidak memilih kekayaan atau kekuasaan, tapi meminta hati yang bijaksana agar dapat membedakan yang baik dari yang jahat dan memimpin umat dengan benar (1 Raj. 3: 9). Permintaan ini menunjukkan kerendahan hati dan kepeduliannya terhadap orang lain. Itulah pemimpin sejati yang mengutamakan kebaikan bersama, bukan keuntungan pribadi.
Pemazmur menegaskan, bahwa hikmat sejati itu bersumber dari firman Tuhan. Pemazmur mengarahkan hati dan hidupnya pada hukum-hukum Allah, tidak pada keinginan diri sendiri.
Dalam Injil, Yesus menanggapi kerinduan banyak orang akan bimbingan dan harapan. Ia mengajar mereka dengan belas kasih, karena mereka seperti domba tanpa Gembala (Mrk. 6: 34). Ia hadir bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk memulihkan hidup.
Dalam dunia yang penuh ketimpangan dan kepentingan pribadi, kita dipanggil untuk meneladan Salomo dan Yesus: jadi pribadi yang bijaksana dan penuh belas kasih. Kita bisa memulai dari hal-hal kecil, mendengarkan orang lain dengan hati, memutuskan sesuatu dengan adil, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi. Dunia membutuhkan lebih banyak hati yang bijaksana untuk membangun hidup bersama yang selaras dengan nilai-nilai Injil.
“Ya, Tuhan, berilah kami hati yang bijaksana dan penuh kasih agar hidup kami menjadi berkat bagi sesama. Amin.”
Ziarah Batin

