Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku kira hanya pantat
yang dapat bersuara
belakang, tapi ternyata
kamu juga.”
(Sebuah Sindiran Halus)
Dari Suara Ngaji Online
Di hari itu, Jumat pagi, (4/4/2025), mata saya terbelalak lebar mencermati sejumlah ungkapan nyentrik dari group Ngaji Online, “Ada yang cari muka, ada yang gak punya muka, ada juga yang buang muka, dan ada pula yang bermuka dua.” Dengan spontan dan seketika nurani saya segera menangkap makna dan amanat yang terkandung di dalamnya.
Dapat Menyentak Nurani
Seketika itu pula, saya segera terdiam sambil mengguman kecil, ya, bagus dan bermakna juga, ungkapan-ungkapan nyentrik ini. Tampaknya sederhana, tapi dapat memboyong aneka rasa dan amanat berupa sindiran halus yang menggelitik nurani.
Saya sadar dan terjaga, bahwa betapa pentingnya ungkapan-ungkapan halus serupa ini untuk dijadikan sebagai sarana dalam mimbar khotbah bebas.
Pribadi Bermuka Dua
Tulisan refleksi yang berfokus pada ungkapan, “Bermuka dua,” ini dapat disinonimkan dengan si munafik alias sang bunglon, serigala berbulu domba, atau pun si cabang lidah.
Si bermuka dua itu riil ada, hadir, dan bahkan mungkin saja dia yang kini sedang semeja jamuan bersama Anda. Atau juga jangan-jangan orang itu adalah Anda sendiri.
Dapat Meracuni Pikiran dan Hati
‘Errare humanum est,’ kata orang berbahasa Latin. Artinya ‘kekeliruan itu adalah kekhasan manusia.’ Lewat konteks pemaknaan ini, bahwa manusia itu adalah makhluk yang tidak sempurna. Ia selalu setia memikul kelemahannya di dalam dirinya. Hal ini juga sudah sejalan dengan pepatah, ‘tiada gading yang tak retak.’
Kehadiran pribadi yang digelari sebagai bermuka dua di dalam masyarakat kita sungguh membawa beban dan bahkan sebagai racun bagi warga masyarak bagi si dia yang digelari sebagai pribadi yang bermuka dua itu.
Riil, bahwa kehadiran sosok pribadi yang bermuka dua ini sudah sangat meresahkan dan merisaukan masyarakat. Mengapa demikian?
Dapat Merusak Relasi Harmonis Kemanusiaan
Karena bukankah lewat praktik dan cara hidup tak beradab, mereka telah merusak dan mendegradasi tatanan hidup beradab dan nilai-nilai luhur dalam diri manusia sebagai ciptaan yang termulia.
Di sisi yang lain, secara sosial kemasyarakatan, kehadiran sosok pribadi yang bermuka dua itu justru dapat juga menimbulkan rasa antipati serta penolakan dari masyarakat.
“Aku kira hanya pantat yang dapat bersuara belakang, ternyata kamu juga!”
Kediri, 5 April 2025

