Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang dungu akan memberimu ikan, tapi si bijak menyodorkan mata kail.”
(Anonim)
;;;
| Red-Joss.com | Ada seorang pria yang dijuluki masyarakat sebagai ‘si penggali makam’. Dia tidak mempersoalkan atau bahkan menolak atas julukan itu. Karena baginya, julukan itu hanya sekadar predikat tempelan.
Suatu hari, saat si pria itu sedang sibuk menggali makam seorang raja, bertanyalah seorang wartawan kepadanya, “Mengapa dan apa motivasimu, sehingga saudara sangat setia menggali makam bagi siapa saja?”
“Saya tidak tahu, untuk apa dan mengapa. Yang saya ketahui, bahwa karyaku ini, hanyalah sebentuk pelayananku kepada sesama,” jawabnya.
“Lalu, siapa yang nanti bakal menggali makammu, saat saudara pergi dari bumi ini?”
“Ah saudara, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tapi, yang sering aku renungkan, ialah siapakah yang kelak akan meneruskan karyaku ini,” jawabnya.
Saudara, apa pun profesi hidup kita di bumi ini, sesungguhnya baik adanya. Apalagi jika semua profesi itu mengacu kepada bentuk pelayanan murni tanpa paksaan serta tuntutan.
Kehidupan ini menjadi kian runyam serta berantakan, justru tatkala dasar serta motivasi sumbangsih kita kepada sesama, selalu atas dasar kalkulasi untung dan rugi.
Misalnya, saya akan dibayar, berapa? Apakah saya akan mendapatkan pujian? Apakah nama saya akan kian tenar?
Sang pria penggali makam ini, justru telah menyodorkan sepenggal filosofi hidup luhur di bumi ini. Ternyata, motivasi hidup lewat karyanya selama ini, murni demi aspek pelayanan dan tanpa embel-embel.
Hal yang sering direfleksikan serta dirisaukannya, ialah adakah sosok pribadi yang kelak akan meneruskan karyanya selaku penggali makam?
Masyarakat kita sering cenderung, untuk berpikir serta bertindak serba pragmatis dan praktis. Tentu, hal itu tidak selalu berarti salah.
Permasalahannya, di dalam kehidupan yang serba pragmatis serta praktis ini, maka sang manusia itu lambat laun akan mengerdilkan kecerdasan emosi spiritualnya. Mengapa? Karena semua aktivitas kemanusiaannya hanya dipandang dan ditakar dari aspek kebermanfaatannya. Artinya, semua aspek kehidupan ini harus berlangsung serba tepat, cepat, dan berguna.
Wah, jika harus demikian seluruh tuntutan hidup kita di atas bumi, maka sesungguhnya, kita justru telah mengambil peran sebagai mesin. Bahwa semua harus berorientasi serba materi yang terukur serta praktis.
Maka, sodorkanlah mata kail, dan bukan ikan kepada sesama yang membutuhkan!
…
Kediri, 18 Mei 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

