Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sikap prasangka dapat menumbuhkan onak dan
duri di dalam hatimu
terhadap sesamamu,
jika engkau memeliharanya.”
(Amanat Hidup Sadar)
Dugaan tidak Mendasar
Prasangka alias sikap bias itu sungguh tidak asing lagi dan bahkan sangat sering terjadi di dalam aktualitas kehidupan sosial antar manusia di dalam lembaga masyarakat.
Apa itu sikap berprasangka? Suatu kondisi manusia yang mengambil sebuah keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Dapat pula dikatakan sebagai ‘tuduhan tanpa bukti.’
Ia bahkan dapat jadi momok yang sanggup membangkitkan sikap antipati terhadap sesama, karena perbedaan ras sebagai orang asing, (xenophobia), atau pun (seksisme) diskriminasi gender, misalnya. Dugaan-dugaan tanpa bukti ini, tidak pelak dapat melahirkan sikap antipati serta rasisme.
Sebuah Tuduhan Palsu
Mari cermati dengan saksama kisah berikut ini!
Seorang pria telah kehilangan kapaknya, dan ia menduga seorang anak tetangganya yang telah mencurinya.
Keesokan harinya, ia mulai mengamati gerak-gerik anak tetangganya itu. Ia makin memperhatikan anak itu, maka kian yakinlah ia, bahwa sungguh anak itulah pencurinya.
Hingga di suatu hari ia menemukan kembali kapaknya yang hilang itu. Selanjutnya, ia tidak lagi melihat tingkah laku anak itu sebagai seorang pencuri.
(Hamdan Hamedan)
Berguru pada Saru
Sungguh Sadis Tuduhan itu
Jika kita sungguh-sungguh mau merenungkan dengan mendalam kisah hilangnya kapak itu, maka dapat disimpulkan, bahwa betapa sadisnya tuduhan tidak mendasar itu.
Bukankah di kala Anda sedang gencar menuduh seseorang dengan tanpa bukti, sejatinya secara nurani, maka tumbuhlah onak dan duri-duri tajam di dalam sanubari ini. Ia bertumbuh, karena Anda telah memeliharanya lewat dugaan-dugaan palsu itu.
Aksi Pembunuhan Karakter
Maka, dapat disimpulkan, bahwa sikap berprangka itu sebagai sebuah aksi pembunuhan karakter bagi kedua belah pihak.
Karakter Anda, selaku pihak penuduh ikut terbunuh, karena Anda telah melenyapkan suara hati jernih itu lewat tuduhan yang tidak mendasar. Sebaliknya, karakter dari pihak yang dituduh pun ikut terbunuh, karena Anda telah melukai hatinya secara sadis lewat tuduhan palsu.
Konklusi
Mari kita belajar untuk bersikap waspada di dalam arena kehidupan ini. Gunakan hati nurani lewat suara hati yang jernih di saat kita memandang sesama. Itulah sebabnya, betapa pentingnya kita selalu bersikap positif (positive thinking).
Kediri, 16 April 2025

