“Prasangka buruk itu datang dari si jahat. Berprasangka baik agar kita bijaksana. Tapi hidup tanpa prasangka itu anugerah Allah agar kita makin dewasa dalam iman, dan bahagia.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Sadar diri adalah keutamaan hidup agar kita fahami, sesungguhnya kita ini makhluk lemah dan banyak kekurangan.
Dengan memahami diri sendiri, sesungguhnya kita diajar untuk mengenali dan mengakrabi bakat dan talenta yang dianugerahi Allah. Untuk dikelola dengan bijaksana, karena hidup kita adalah saluran berkat-Nya.
Coba rasakan, bandingkan, dan nikmati.
Ketika beprasangka buruk, negatif pada orang lain, sesungguhnya kita tidak hanya mencemari pikiran, tapi juga menjauhkan kita dari orang itu dan melukai hati sendiri.
Dengan berprasangka negatif, kita menilai orang lain makin minus dan buruk dalam pikiran ini. Sekaligus kian tergerus pula anugerah Allah dari diri ini. Jauh dari rasa bersyukur membuat hidup kita senantiasa minus dan dipenuhi kekurangan. Hidup tersiksa dan menderita.
Berbeda hasilnya, jika kita selalu berprasangka baik, positif pada orang lain. Karena pintu anugerah Allah makin terbuka lebar. Hidup kian berbuah dalam kelimpahan-Nya.
Dengan berprasangka baik, kita mengubah hal-hal buruk dan jelek itu jadi positif. Dengan bersyukur pula, kita melihat hikmat Allah di balik peristiwa itu. Karena kita tengah dibentuk-Nya agar jadi bijaksana.
Ketika kita bisa merasakan dan membandingkan prasangka buruk dan baik dalam hidup ini, coba pula kita melepas prasangka-prasangka itu dari hidup kita.
Caranya adalah dengan mengubah prasangka-prasangka itu dengan perasaan kasih. Kita mengasihi sesama tanpa sekat dan alasan sebagaimana Allah adalah kasih.
Hidup tanpa prasangka, karena kita saling mengasihi, dan bahagia.
…
Mas Redjo

