Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bekerja adalah berupaya dengan segenap akal budi untuk memenuhi tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.”
(Jakob Oetama)
Hal kepemimpinan ini, dikembangkan berdasarkan ide dan inspirasi dari harian Kompas, Sabtu (17/2/2024), kolom Karier, berjudul, “Wibawa Pemimpin,” oleh Ellen Rachman dan Emilia Jakob, Konsultan SDM.
Pemimpin, wahai engkau sang Pemimpin! “Pemimpin, sesungguhnya, siapakah engkau?”
Tidak ada kelompok kehidupan manusia di kolong langit ini, tanpa memiliki seorang pemimpin.
Pemimpin berwibawa itu sebuah kharisma.
Seorang Pemimpin itu, mutlak memiliki naluri cerdas untuk berkomunikasi, sebentuk perhatian, bersikap sabar dan tabah, serta cermat menghadapi konflik.
Kharisma besar sang pemimpin itu, akan terpancar lewat pengaruhnya yang besar, aura wajah yang dewasa, dan sikap berwibawa.
Dalam budaya Romawi kuno, ada konsep yang di sebut dengan ‘gravitas’ adalah power dan keanggunan di saat dia memimpin. Manakala beliau hadir, hadirin pun akan terpesona oleh penampilan dan tuturan berwibawanya.
Pemimpin itu perlu juga memiliki sikap kesederhanaan dan kerendahan hati, sehingga ia dapat memahami kesulitan serta kendala yang terjadi di dalam masyarakatnya.
Dia pun bersikap respek dengan menampilkan sikap simpati dan empatinya terhadap pergolakan di dalam masyarakatnya.
Itulah kompetensi terbesar sebagai ekspresi dari kharisma dan power dahsyat dari seorang pemimpin.
Saya akan menampilkan sejumlah kiat jitu, demi meningkatkan power dan kewibawaan seorang pemimpin.
(1) Sang Pemimpin itu perlu memperjelas dan menegaskan visi kepemimpinannya.
Ada pun tujuannya agar masyarakat dapat memahami dan selalu mengingat visinya itu.
(2) Sang Pemimpin itu hadir dengan tenang dan mampu memberikan harapan kepada masyarakat.
Sehingga sang Pemimpin itu perlu memiliki pemahaman yang benar dan tetap tenang menghadapi kondisi riil di dalam masyarakat.
(3) Sang Pemimpin itu perlu terampil berkomunikasi via aneka media.
Di sini, pemimpin itu akan memperlihatkan sikap empatinya dengan rela mendengarkan keluhan masyarakat.
Sesungguhnya, pada dasarnya, Anda dan saya juga seorang pemimpin. Setidaknya sebagai pemimpin untuk diri sendiri.
Kita pun tidak jarang mendengar celetuk, “Bagaimana Anda bisa memimpin sekelompok orang, jika ternyata Anda belum mampu memimpin diri sendiri?”
Kediri, 24 Februari 2024

