| Red-Joss.com | Di lampu merah, hampir tiap pagi, kita jumpai wajah tua tuna netra, dengan badan lusuh, didorong-dorong yang lebih muda, menyusup disela-sela padatnya motor dan mobil, menanti uluran belas siapa saja. Di seberang lain seorang gadis muda menggendong bayi mungil sambil nyanyi sekadarnya untuk harapan yang sama.
Aktivitas seperti itu dapat dikategorikan sebagai ‘poverty porn’, yang merupakan kebalikan dari ‘flexing’, karena ada aroma eksploitasi.
Jika ‘flexing’ adalah pamer kekayaan, ‘poverty porn’ adalah memamerkan kemiskinan untuk mendulang simpati. Lantas, apa pengertian dan perbedaan antara kedua istilah tersebut?
Di sekitar kita, kerap kita saksikan bagaimana kemiskinan dieksploitasi untuk merebut simpati publik. Sebut saja cerita anak pemulung yang lulus cum laude dengan ipk 4.0, sempurna dari sebuah universitas ternama.
Kemiskinan diolah menjadi kisah yang memeras air mata dan dijajakan secara vulgar untuk menaikkan rating. Inilah yang dikenal sebagai ‘poverty porn’. Dalam bahasa Inggris, ‘poverty’ mengandung arti kemiskinan. Kemiskinan ditelanjangi dan dijajakan untuk menstimulasi emosi publik.
Memperhatikan dan nolong orang miskin memang karya kasih, namun tidak dengan jalan mengeksploitasi yang miskin. Mereka tetap senilai dengan kita. Penulis Mazmur mengingkatkan kita untuk selalu bersih. Mz 10:9: “Ia mengendap di tempat yang tersembunyi seperti singa di dalam semak-semak; ia mengendap untuk menangkap orang yang tertindas. Ia menangkap orang yang tertindas itu dengan menariknya ke dalam jaringnya.”
Tetap tekun berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

