“Tidak bermaksud memberatkan atau membebani umat, sebaliknya ‘potluck’ itu untuk meringankan umat yang rumahnya digunakan sembayangan Lingkungan.” -Mas Redjo
…
Ide awalnya ‘potluck’ makanan itu dilemparkan Pengurus Lingkungan untuk meringankan umat yang berketempatan, karena rumahnya digunakan sembayangan.
Bersyukur, karena umat merespon baik, bersedia untuk beberes, dan menyiapkan rumahnya untuk sembayangan. Diharapkan rumah umat yang lain juga bersedia, jika digunakan secara bergiliran.
Maksud dan tujuan diadakan ‘potluck’ itu agar tidak membebani tuan rumah. Sekaligus Pengurus Lingkungan menawarkan ke umat yang berkenan untuk berbagi rezeki dengan menyediakan makanan.
Tidak sekadar ‘potluck’, seorang Pengurus juga menyumbang kursi dan bersedia mengantar kursi itu ke rumah umat yang berketempatan. Sehingga diharapkan pula, makin banyak umat yang berkenan hadir.
“Umat makin kompak dan guyup,” komentar SE melihat keantusiasan umat setiap kali sembayangan yang datang di atas 25 orang. Mereka seperti rindu bertemu dan kumpul, setelah pandemi panjang dan wakum kegiatan.
Keantusiasan umat terlihat juga, ketika ziarah ‘porta sancta’ ke 9 Gereja di KAJ yang diikuti 60-an orang dengan menyewa bus dan beberapa mobil pribadi. Biaya akomodasi plus makan komplet itu juga ringan, yakni Rp 100.000,-
Sungguh, Potluck kasih dari umat ke umat yang mengalirkan berkat berlimpah!
…
Mas Redjo

