Fr. M. Christoforus, BHK
“Kegelapan itu simbol ketidakberdayaan”
…
| Red-Joss.com | “Post Nubila Lux” adagium, yang bermakna habis gelap, terbitlah terang. Maka, kegelapan itu, sejatinya hanyalah sebongkah ketidakberdayaan sang manusia.
Sungguh, kehidupan ini telah diwarnai berbagai suasana mencekam, kelam.
Ada wabah aneka jenis penyakit yang sungguh mengharu biru dan bahkan mampu membawa maut.
Ada peperangan dasyat antar bangsa dan negara, yang mampu membumihanguskan kehidupan. Eksesnya, puluhan, ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan umat manusia pun terenggut nyawanya.
Ada bencana alam yang mengerikan, seperti: gempa bumi dasyat, tsunami ganas, serta banjir bandang menghadang.
Ada pula bala bencana, yang justru jauh lebih merunyam nurani suci kita. Itulah bencana kemanusiaan, seperti: permusuhan, persengketaan, iri hati, cemburu, gila hormat, kebencian, dan korupsi yang justru kian merajai kehidupan ini.
Itulah sederetan kepekatan hidup yang telah menhantui nurani suci sang manusia. Kenyataan paling pahit yang mampu melelehkan air mata duka sang manusia.
Lalu, kita mau apa? Bertindak dengan cara bagaimana? Bagaimana dan apa, upaya kita selanjutnya?
Sungguh, kita manusia, ternyata tidak berdaya. Aneh, tapi nyata. Jika kita mau dengan jujur dan tulus mengkritisi serta menelisik, apa faktor penyebabnya? Maka, sesungguhnya, sang manusialah, dalang atau aktor intelektualnya di balik semua kegetiran itu.
Wahai, sang manusia, bertanggung jawab dan bertekuk-lututlah engkau di atas dan di balik bongkahan timbunan reruntuhan kehidupan ini.
Hendaknya, semua hati patut meratapi dan menyesalinya!
Mari kita mengangkat mata, hati, dan mensyukuri kemurahan serta kerahiman Tuhan, bahwa Dialah Sang Penyelamat kita.
Maka pantaslah, kita pun pada hari ini, dan di tempat ini, boleh berkumandang, “post nubila Lux.”
“Wahai Dikau, Sang Terang sejati, yang telah mampu menyingkirkan kegelapan, syukur kepada-Mu!”
…
Kediri, 24ย Desemberย 2023

