Kata ‘benar’ itu jadi membingungkan, ketika ke luar dari mulut dan disuarakan. Mengapa? Karena semua mulut yang bersuara itu tidak sejalan.
Karena mulut itu diberi makan oleh A, maka menyuarakan yang A. Karena mulut ini diberi makan oleh B, maka menyuarakan yang B. Analisisnya mau pendek atau panjang? Mau detail atau apa adanya. Ujungnya sudah ketahuan: Hanya memperjuangkan kepentingan.
Bagaimana dengan yang tidak mengeluarkan suara dari mulutnya: cuek atau jadi penonton saja. Tidak peduli dan tetap bekerja untuk mengisi perut agar tidak kelaparan melalui mulutnya.
Sekarang ini, memang kebenaran sudah ditafsirkan ‘dhewe-dhewe’. Tidak usah dibuat pusing, karena setiap mulut bebas berbicara, tanpa bisa dikontrol, kecuali, jika yang berkuasa “merasa tersinggung.”
…
Macau, 22 Desember 2024
Rm. Petrus Santoso SCJ

