Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika semua pintu tertutup, namun hanya ada sebuah pintu yang senantiasa terbuka.
Pintu apakah itu?”
(Suara Sang Kebenaran)
Didaktika Hidup Manusia
“Dulu, saya pernah dinasihati oleh orang tua-tua, bahwa janganlah meratapi nasibmu, jika dalam ziarah hidup ini, ternyata kamu sering menemukan jalan-jalan yang seolah-olah buntu.” Apakah benar anggapan yang demikian?
Bukankah, di sisi yang lain, ada juga filosofi hidup yang mengajarkan, “Jika semua pintu didapati sedang terkatup erat, maka carilah sebuah celah kecil yang terkuak.” Ternyata, konsep ini bermakna, bahwa sesungguhnya, dalam perjuangan hidup ini, selalu saja ada celah kecil yang bernama ‘pengharapan’. Bahwa kita, Anda pun saya tidak selalu dibiarkan untuk hidup dalam kondisi hampa merana. Justru selalu ada pacaran seberkas sinar dari Sang Mentari Keabadian.
Senantiasa Ada Setitik Pengharapan
Apakah, ketika Anda menderita sakit dan malang, Anda selamanya akan sakit dan malang? Ketika Anda berjalan, apakah tidak akan ada titik akhir? Atau juga, apakah ketika mentari tenggelam di kaki langit, besok dia tak akan kembali? Ternyata, tidaklah demikian, bukan?
Artinya si sakit akan kembali jadi sehat. Sebuah proses ziarah akan ada titik akhirnya. Juga ternyata mentari akan senantiasa kembali bersinar, bukan? Nah, itulah yang dinamakan ‘setitik pengharapan’.
Maka, dari dan di balik semua seruan yang penuh pengharapan ini, hendaklah kita tetap bersikap terbuka, ikhlas, dan berpengharapan. Karena bukankah, setelah mendung pekat, akan ada setitik cahaya dari balik awan gelap?
Permasalahan Laten Manusia
Permasalahan kita ialah, ketika kita hanya bersikap pasrah dan mudah putus asa, tatkala dirundung duka dan malang. Dalam kondisi duka papa lara itu, maka kita sudah kehilangan setitik bara api pengharapan. Itulah tanda kerapuhan jiwa kita.
Janji-janji Kebahagiaan yang Diingkari
- Tuhan telah menjanjikan “kebahagiaan kekal bagi jiwa kita,” tapi kita telah mengabaikan-Nya.
- Tuhan telah memancarkan “seberkas cahaya pengharapan,” tapi kita telah menghalau-Nya.
- Tuhan berjanji “setia menyertai kita,” tapi kita telah mengingkari-Nya.
- Tuhan ingin “menggendong tubuh letih kita,” tapi kita telah lari dan mengabaikan-Nya.
Maka, sungguh betapa rapuh dan cengengnya jiwa kerdil kita!
“Bukalah pintu pengharapanmu!”
Kediri, 31 Agustus 2025

