| Red-Joss.com | Jika suasana hening sunyi, kita tentu mendengar, ketika pintu itu diketuk orang. Kecuali penghuninya tidak ada di tempat atau terlelap tidur. Faktanya tidak demikian, pintu kamar saya digedor, tapi saya tidak mendengar. Saya seperti kesirep. Dilindungi dan dijagai Allah.
Bagaimana tidak. Tengah malam pintu kamar kos saya digedor, dan keributan yang terjadi di luar kamar juga tidak membuaku terjaga.
Ketika menjelang subuh, saya bangun untuk turun ke lantai bawah, tapi dicegah beberapa teman yang tengah bersiap-siap masak bubur untuk dijual keliling kampung.
Dari mereka, saya diberi tahu, bahwa semalam saya hendak dibunuh oleh AN, karena menuduhnya mencuri uang. Di pinggang AN terselip pistol yang biasa dipamerkan pada kami.
Saya kaget. Faktanya adalah saya sekadar memberi tahu pada si empunya rumah kos, yakni kakak kandung AN, bahwa uang saya sering hilang. Padahal saya tinggal sebentar untuk mandi di lantai bawah.
Berarti Ibu kos telah menuduh AN, yang mantan residivis itu. AN tidak terima, dan mencari saya.
Meski hati ini berdegup kencang, tapi saya mencoba bersikap tenang. Karena saya tidak merasa menuduh dan berbuat bersalah.
Di kantor, saya menceritakan kronologi itu kepada pimpinan untuk minta nasihat. Oleh YR, saya disarankan untuk pindah kos. Meski benar, tapi tidak ada gunanya mengurusi residivis yang kasar itu.
Masalahnya, sekarang tanggal tua dan saya tidak mempunyai uang. Mencari tempat kos yang murah juga tidak mudah. Untuk pinjam ke kantor saya malu, karena belum sebulan bekerja. Teman di Jakarta juga tidak banyak. Lalu?
Di saat kepepet itu saya hanya berserah dan berdoa. Termasuk, jikapun harus berpulang kepada-Nya, saya harus siap.
Dalam penyerahan diri itu, tiba-tiba saya ingat teman sekampung yang belum lama jumpa, Mas RS. Entah kenapa pikiran saya diarahkan kepadanya. Saya ingin numpang sementara di rumahnya, menunggu seminggu lagi gajian. Tidak ada bayangan, jika ditolak.
Semalam Allah telah menjaga dan melindungi saya, IA juga pasti telah menyiapkan rencana yang terbaik pula.
Sampai di tempat kos, saya memasukkan pakaian ke dalam tas. Lalu saya menemui Ibu kos untuk pamitan. Meski ia kaget, dan suaminya melarang, tapi saya bersikeras. Saya juga minta maaf, sekiranya ada perbuatan saya yang tidak berkenan di hati. Termasuk minta maaf saya disampaikan pada AN.
Ke luar dari tempat kos saya langsung menemukan bemo yang mengantar saya ke Slipi, untuk dilanjut ke Kebayoran Lama.
Puji Tuhan, Mas RS ada di rumah. Saya minta maaf dan izin, jika diperkenankan untuk numpang seminggu di rumahnya.
Saya tidak henti bersyukur, ketika Mas RS menerima saya dengan gembira.
…
Mas Redjo
Foto Ilustrasi: Istimewa

