RedJoss.com – Adalah mustahil untuk sukses, ketika kita mengenalkan suatu barang tanpa promosi. Baik lewat mulut ke mulut, brosur, tv, hingga lewat sosmed.
Tanpa promosi, suatu barang yang dipasarkan, hasil penjualannya jauh lebih lambat dibandingkan dengan barang yang dipromosikan secara kontinyu, gencar, dan berkesinambungan.
Selain promosi, faktor penting untuk mendukung sukses pemasaran suatu barang dipengaruhi oleh mutu dan kemasan barang itu sendiri.
Coba lihat tampilan menarik dari kemasan barang-barang yang dipajang dan dijual itu. Lalu bandingkan dengan kualitas barang itu sendiri. Kemasan yang menarik mampu meningkatkan penjualan dan mendongkrak harga menjadi lebih mahal.
“Sekadar menjual kemasan, ketimbang menjual isi dan kualitas produk,” istilahnya. Tapi, siapa peduli?
Hal yang biasa, lumrah, dan banyak digunakan juga sebagai sarana promosi menjelang pilkada, pileg, dan seterusnya. Banyak jurkam yang menjual kucing dalam karung.
Lalu, apa jadinya jika kualitas calon yang jelek, tidak bermutu, bahkan tidak memenuhi standar itu dikemas dengan segala kelebihan dan kebaikan itu dijual ke pasar? Apakah dilarang, salah, dan harus bagaimana?
Semua kembali kepada hati nurani para jurkam dan tim sukses itu sendiri.
Suatu produk makanan atau elektronika itu jelas sangat berbeda dengan manusia.
Mutu suatu produk makanan itu teruji, ketika kita mencoba rasa dan kualitas bahan. Bukan dari tampilan kemasannya. Ketika rasa dan kualitas jelek, pelanggan menjadi kapok dan akan meninggalkannya. Begitu pula dengan produk elektronika, atau yang lainnya.
Lain masalahnya, ketika kita salah memilih calon pemimpin. Kita sebagai pemilih juga ikut bertanggung jawab.
Ketika kesalahan itu ditimpakan pada juru kampanye dan tim pemenangnya, mereka pasti bakal mengelak dan bersikukuh tidak mengakui. Mereka bekerja secara profesionalisme, kendati mengingkari hati nurani.
Ketika calon pemimpin yang buruk, minim prestasi, dan tidak mampu bekerja itu dikemas menjadi pribadi yang baik dan berprestasi, jika dikampanyekan terus menerus, akhirnya dipercaya sebagai kebenaran.
Sebelum kita salah langkah dan nasi menjadi bubur, lebih bijak jika kita teliti dengan seksama latar belakang calon pemimpin itu. Jangan terbius dengan janji manis kampanye agar kita tidak menyesal di kemudian hari.
Pemilih cerdas itu harus jeli memilih pemimpin berkualitas dan bermartabat untuk Indonesia Jaya. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

