Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Vivere est cogitare“
(Hidup itu berpikir)
Cicero
“Liberae enim sunt cogitationes nostrae“
(Pikiran kita bebas)
Ulpianus dan Cicero
…
| Red-Joss.com | Saudara, kita manusia adalah makhluk yang dapat berpikir. Bahkan dengan atau lewat kemampuan berpikirlah kita baru benar-benar menjadi manusia.
Hal ini bermakna, bahwa potensi berpikir adalah indikasi dari eksistensi seorang yang sungguh manusia.
Maka, pikiran sang manusia dimaknakan dan diasosiasikan sebagai โpelita tubuhโ. Bahkan sang filsuf agung, Rene Descartes (1596-1650), beradagium “Cogito ergo sum, saya berpikir, maka saya ada.” Artinya, sang filsuf berpendapat, โketika sang manusia memahami dirinya sebagai makhluk yang dapat berpikir, maka pemikirannya itu adalah hakikatnya.”
Masyarakat kita pun sangat mengandalkan kekuatan berpikir dari seorang manusia. Hal ini dapat dibuktikan lewat narasi bernada harapan, semisal, ‘pikirkan dulu, sebelum berbicara atau pikirkan matang-matang sebelum bertindakโ.
Pikiran sang manusia entah jernih atau pun kacau akan terekspresi lewat bahasa. Jika pikiran sang penutur itu kacau, maka lahirlah ekspresi bahasa yang kacau. Jika pikiran sang penutur itu jernih, maka akan terekspresi lewat bahasa yang jernih pula.
Saya teringat akan sumpah seorang calon pemimpin, saat ditanya, “Apa yang pertama, akan Tuan lakukan, andai terpilih menjadi pemimpin?”
Jawaban spektakulernya, “Oh, ya, saya akan menata buah pikiran saya, sehingga bahasa saya akan jernih serta transparan; dan itu, berdampak akan mudah dipahami rakyat.โ
Alam pikiran sang manusia adalah suatu yang sangat abstrak.
Saat sang manusia bertutur, terdapat tiga hal dalam pikirannya, yaitu sensasi, persepsi, dan memori.
Tuhanlah yang meletakkan kemampuan berpikir di dalam diri sang manusia. Maka, kemampuan berpikir itu adalah sebuah anugerah istimewa. Ketahuilah, sang manusia adalah satu-satunya ciptaan yang memiliki kesanggupan berpikir.
Jika kemampuan berpikir itu merupakan sebuah anugerah, maka hendaklah sang manusia itu berpikir dengan benar serta mengikuti perintah akal budi. Itulah sebentuk tanggung jawab moral, artinya sang manusia itu akan bertanggung jawab atas kata-kata yang diucapkannya.
Kualitas kuasa berbahasa Anda akan terpancar lewat ucapan yang baik dan benar.
Karena sejatinya, bahasa hoaks bukanlah anak kandung dari akal budi, tetapi hanyalah budak sang iblis laknat.
Maka, sungguh sangatlah bermanfaat kekuatan berpikir itu.
Karena pada saat itu, Anda akan tahu dan sadar; ternyata, โpikiranku adalah si hamba yang setia ataukah si tuan yang kejam lalim itu.โ
…
Kediri,ย 24ย Meiย 2023

