RedJoss.com – “Jangan pernah lelah mengampuni, karena kasih Allah kepada kita itu abadi.”
Saat sulit untuk memberi maaf dan mengampuni orang yang bersalah, kita wajib mempertanyakan keimanan sendiri.
Bisa jadi, kita kecewa dengan sikap dan polah orang itu, dimaafkan tapi tidak berubah, keras kepala, dan seterusnya.
Memaafkan itu ikhlas, bukan sekadar omongan di mulut atau basa basi, melainkan dari ketulusan hati.
Memaafkan kesalahan itu ibarat kita menghembuskan nafas. Sebaliknya, ketika sulit untuk memaafkan, kita ibarat menahan nafas, sehingga dada ini menyesak dan sakit.
Resep untuk melupakan kesalahan orang itu adalah sadar diri, bahwa manusia itu rapuh dan berbuat salah itu manusiawi.
Dengan belajar untuk memahami, kita melepas beban pikiran agar hati ini tidak menjadi sakit dan terluka.
Sekiranya orang itu tidak sadar diri untuk berubah, semua itu pilihan dan konsekuensinya untuk menanggung akibat dari perbuatannya.
Sebagai teman, kita wajib peduli untuk mengingatkan dan mendoakan agar kasih Allah mencerahkan jiwanya dan berubah menjadi lebih baik.
Dengan memaafkan dan mengampuni orang lain berarti kita berani berdamai dengan diri sendiri. Sekaligus kita berdamai dengan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Hidup kita pun nyaman tanpa beban, dan bahagia. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

