Red-Joss.com | Dalam Kisah Sengsara (Pasio) jarang ditampilkan Kisah Maria, ibunda Yesus, yang memangku Anaknya yang tidak bernyawa lagi. Momen itu dipahat pada sebuah patung oleh Michelangelo dan dinamakan ‘Pieta’.
Kata ‘pietà’ dalam bahasa Italia berarti ‘kasihan’ (the pity). Ide ungkapan tersebut mengarah pada kesedihan mendalam yang dirasakan Bunda Maria, karena derita Yesus.
Yesus baru saja diturunkan dari salib, sudah tidak bernyawa. Maria menerima Puteranya dan memangku di atas pangkuannya.
Maria, terus mengatubkan bibirnya. Tanpa air mata. Bukan tanpa kesedihan. Kering sudah air matanya. Tetapi mata air cinta dalam hatinya terus membasahi Putera-Nya yang sudah tak bernyawa.
Sebagai abdi kemanusiaan yang menyatakan diri dengan terbuka untuk melayani Tuhan, sanggupkah kita berkata: “Bila kau butuh bahu untuk bersandar, dan raga untuk berlindung. Pasti kau ‘kan temukan aku di garis paling depan, dan aku tak akan membuatmu bertepuk sebelah tangan.”
Merawat orangtua yang sakit, merawat nenek yang ditinggal anak-anaknya, memangku istri yang tidak lagi berdaya, memangku anak yang pergi meninggalkan imannya, memangku umat yang miskin dan kurang menyenangkan hati, memangku sahabat yang menyakiti hati, memangku umat dengan pengampunan dan maaf, memangku yang membutuhkan lewat doa dan persahabatan.
Kisah berikut ini nyata, terkait dengan diriku, ketika seorang muda (dulu) yang menanggilku ‘Om’ merasa gemes, ketika namanya tidak cepat saya ingat, karena sudah terpisah lebih 42 tahun yang lalu. Waktu memang telah berlalu namun kebaikan hati tak akan pernah hilang.
Namanya Ero. Dia bercerita kalau di rumahnya, kini ada kakaknya (perempuan) dan suami kakaknya, yang selain tua, keduanya sakit parah. Ero merawat mereka.
Ada begitu banyak “Ero” di sekitar kita yang berjiwa “pieta”, rela menjadi pundak untuk bersandar dan mau jadi pangkuan untuk yang lemah.
Selamat me’pieta’kan diri bagi sesama.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

