“Pencitraan itu semu. Karena prioritas utama dan penting itu adalah ketulus-ikhlasan hati kita untuk mengasihi sesama.” – Mas Redjo
Ketika seminggu belakangan ini di medsos dibanjiri dengan pencitraan Ki Demang, saya tidak ikut arus, dan hanyut ke dalam pusarannya.
Bagi saya pribadi, kebenaran atau tidaknya kabar itu tidak memberi dampak dan perubahan pada saya.
Pro dan kontra itu lumrah dan biasa. Apalagi, jika berita itu dibisniskan demi kepentingan pribadi atau golongan. Lalu diolah dengan banyak versi, sehingga jadi sajian lezat dan nikmat bagi pembacanya.
Saya juga tidak mau menanggapi, benar dan validnya berita itu, atau hoaks yang dibesar-besarkan agar mendongkrak popularitas Ki Demang atau demi mendongkrak rating media itu.
Keputusan sepenuhnya ada pada kita untuk melihat, mendengar, dan mengkrosceknya agar tidak salah menilai dan menghakimi orang lain. Juga, dampak positifnya bagi kita.
Alangkah naif, jika kita sekadar ikut-ikutan atau memancing di air keruh demi secangkir kopi pahit.
Alangkah bijak, jika kita mencermati dengan hati nurani, tanpa tendensi, atau iri dengki.
Hal-hal baik dan positif itu harus didukung dan dibagikan. Sedang hal yang buruk dan negatif itu dibuang, dikubur, dan dilupakan.
Sekali lagi, saya mengingatkan diri sendiri agar tidak dikendalikan oleh pikiran dan perasaan ini. Untuk tidak memuji secara berlebihan pada mereka yang berprestasi sebagai pelayan kemanusiaan.
“Jangan mencaci, membenci, dan menghakimi mereka yang bersalah, jika kita mau memperbaiknya.”
Sejatinya, sukses membohongi orang lain itu bukan prestasi, tapi menipu diri sendiri. Karena kita akan ditelanjanginya di hadapan Allah.
Berani jujur dan tulus itu hebat!
Mas Redjo

