“Hidup ini adalah peziarahan kasih. Suami adalah nahkodanya. Istri itu navigatornya. Sehingga kapal keluarga yang melayari samudra kehidupan itu sukses menuju pantai bahagia.” -Mas Redjo
…
Ketika melamar dan bermaksud menikahi IS, saya tidak menjanjikan dengan hal yang muluk-muluk dan memabukkan. Tapi hidup dalam kesederhanaan dan keprihatinan.
“Jika ya, ayo, kita arungi dan jalani bersama,” tegas saya meyakinkan. IS balas menatap saya, tersenyum, dan manggut mengiyakan.
Jawaban dan kepastian IS itu bagai hujan rinyai di musim kemarau yang membuat nyes di hati. Karena tidak mau mengecewakan gadis yang dicintai, saya harus berjuang untuk membahagiakannya lahir batin.
Nasihat bijak Guru spiritual saya menyusup lembut mengelus nurani. Resep jitu membangun keluarga itu tidak dengan meninggikan ego, tapi merendahkan diri, merendah dan merendah. Karena orang sombong itu tidak dapat melakukannya.
Inti nasihat bijak itu adalah agar saya selalu rendah hati demi kebahagian keluarga. Rendah hati, untuk mendahulukan kepentingan keluarga yang didasari kasih dan ikhlas.
Dengan bersikap rendah hati pula, kita diajak untuk berkreasi menggali potensi diri. Karena anugerah Tuhan luar biasa, dan segala kebutuhan kita disediakan-Nya.
Untuk mewujudkan pola hidup sederhana dan prihatin itu saya mengajak istri untuk menjauhi perilaku konsumtif, tapi menjalani hidup yang produktif. Berkreasi untuk menggali potensi diri demi masa depan keluarga.
Hasilnya adalah 34 tahun kami hidup dalam kebersamaan keluarga untuk saling mengasihi. Kami melayari suka-duka kehidupan ini diiringi nyanyian pujian dan syukur kepada Tuhan.
Alleluya!
…
Mas Redjo

