“Sementara ia menderita sengsara di alam maut, ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya” (Luk 16: 23b).
Apabila kita merenungkan Injil Lukas, kisah Lazarus dan orang kaya sebenarnya mengantar kita kepada keadaan pada masa depan. Pada akhir zaman, Tuhan Yesus akan datang dengan mulia untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. Orang yang mati maupun yang hidup akan dibangkitkan untuk memasuki hidup kekal Surgawi atau sebaliknya, hukuman neraka yang abadi.
Menurut Paus Benediktus XVI, kepenuhan Kerajaan Allah pada hari kiamat, menunjuk pada situasi kehidupan kita sekarang dan saat ini. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita hidup dalam iman, harapan, dan kasih. Dalam Tahun Yubileum ini, hendaknya kita jadi peziarah harapan.
Mari kita hidup dengan baik seolah-olah kita akan meninggal esok pagi, namun terus belajar seakan-akan hidup kita abadi.
Rm. Serafim Maria, CSE
Minggu, 28 September 2025
Am 6: 1.4-7 Mzm 146: 7-10 1 Tim 6: 11-16 Luk 16: 19-31
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

