“Jatuh cinta itu biasa. Jadi luar biasa, ketika kita menghidupi cinta itu dengan semangat kerendahan hati.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Astaga! Tiba-tiba saya tertarik dan ingin mengenal dekat Doi yang jadi pusat perhatian itu. Sorot mata Doi yang teduh itu menggelamkan jiwa. Senyumnya yang lembut itu amat menawan dan menggetarkan hati.
Wow! Hati saya jadi berbunga-bunga. Sungguh mati, saya jatuh cinta pada Doi!
Mungkinkah saya mampu merebut hati dan cinta Doi?
Saya amati para pesaing yang ingin jadi kekasih Doi. Umumnya mereka itu pribadi yang sederhana, ramah, dan … saya merasa mampu untuk memenangkan persaingan itu. Saya sangat optimis!
Karena itu saya ingin tampil beda di hadapan Doi. Saya ingin terlihat keren, tajir, dan macho!
Ternyata saya kege-eran dan harus kecewa. Doi yang ramah dan murah senyum itu adem-adem saja menanggapi perhatian saya. Hal itu yang membuat saya jadi penasaran dan kheki.
Berbagai macam cara saya coba untuk merebut perhatian Doi, dan memanjakannya dengan hadiah. Tapi untuk yang sekian kali saya terpaksa menelan kekecewaan itu. Apalagi, bahkan hadiah dari saya itu diberikan Doi pada orang lain. Duh!
Doi itu memang beda dibandingkan dengan doi-doi yang lain. Doi tidak mempan dibanjiri hadiah. Mobil mewah dan penampilan keren juga tidak membuat hati Doi goyah.
Cinta berat pada Doi membuat saya menebalkan muka untuk berubah. Baik dalam perpakaian, berbicara, dan menjaga perilaku.
Saya lalu tampil sederhana tanpa aksesoris diri. Karena saya amati Doi dekat dan akrab dengan mereka yang bersahaja itu.
Saya melihat ada perbedaan dalam sambutan Doi terhadap saya. Sorot matanya lembut dan menggetarkan jiwa.
Perubahan sikap Doi yang lain adalah, ketika tanpa sengaja saya sering bertemu Doi di banyak kegiatan amal kasih, seperti di kolong jembatan, fakir miskin, anak yatim piatu, dan seterusnya.
Ternyata Doi itu cerminan wajah Tuhan Yesus yang tersamar pada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.
Pada Tuhan Yesus, peziarahan cinta saya berlabuh!
…
Mas Redjo

