Yang dirindukan oleh umat di segala ujung bumi, di sudut kota dan desa adalah pelaku-pelaku Sabda Tuhan yang hebat, tidak hanya sebagai pewarta Sabda Tuhan yang hebat.
Menjadi pewarta Sabda yang hebat itu bisa dipelajari. Selain, karena talenta/bakat yang diberikan Tuhan. Sedangkan menjadi pelaku Sabda yang hebat itu ‘dihidupi’ setiap hari. Tekun dan disiplin. Tidak ada waktu yang kosong untuk mengawali, menjalani, dan menutup hari ini dengan siraman Sabda Tuhan.
Hari ini, Yesus memberikan kritikan keras kepada orang Farisi dan ahli Taurat dengan mengatakan, “Ikuti apa yang mereka ajarkan, tapi jangan ikuti tingkah lakunya.” Karena mereka mengajar untuk bergaya, mendapatkan simpati, dan meningkatkan popularitas. Mereka mengajar untuk mendapatkan posisi terhormat dan mengumpulkan banyak uang. Yang jelas, mereka mengajarkan dengan tujuan tidak seperti yang dimaksudkan Tuhan. Sehingga, ketika Yesus selesai berkotbah, reaksi dari orang-orang itu berbeda dan mereka mengatakan, “Dia mengajar dengan penuh kuasa, berbeda dengan orang Farisi dan ahli kitab dari kalangan mereka.”
Tidak berhenti di situ tingkah aneh mereka. Karena mereka berebut minta dipanggil sebagai Rabbi, Bapa, atau master yang hebat.
Begitulah realitas godaan yang sesungguhnya dari pewarta-pewarta itu. Yang namanya kuasa, kedudukan dan popularitas itu menyilaukan mata. Sebab di balik hal itu ada kehebatan.
Sungguh tepat yang disampaikan Tuhan Yesus dalam Injil hari ini. Karena yang hebat dan tidak terbatas adalah kita hanya mempunyai satu Rabbi. Kita semua adalah saudara dan saudari. Kita hanya mempunyai satu Bapa dan satu Master, yaitu Kristus sendiri. Tuhan yang menuntun kita menuju kepada kebenaran dan keselamatan.
Kita juga jangan menjadi pewarta-pewarta Sabda-Nya di zaman ini yang menciptakan kebenaran dan keselamatannya sendiri. Kita harus ingat, sehebat apa pun kita menurut kaca mata dunia saat ini, tetap yang hebat adalah Tuhan Yesus Kristus, yang telah memanggil kita untuk menjadi pewarta dan pelaku Sabda-Nya. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

