“Meski memperoleh dukungan dari masyarakat luas, tapi pendirian Petruk keukeh. Ia ogah dicalonkan jadi Lurah. Alasannya, ia takut lupa diri.” -Mas Redjo
Bagi Petruk yang orang kampung, meski jabatan Lurah itu prestise, tapi tidak membuat ia silau. Ia tidak mau terpenjara dalam kekuasaan. Ia orang merdeka. Ia takut disorot, jika bertindak tidak jujur dan benar. Karena aib itu tidak mampu dicuci, meskipun oleh tujuh turunan!
Ia tidak mau mengecewakan para pendukungnya, orangtua, keluarga, dan hati nuraninya sendiri. Karena kekuasaan itu bakal menguji mental dan spritual keluarganya agar tidak rontok ke dalam jebakan si Jahat.
Ia ingat kisah miris dari Kelurahan Omon-omon, desa tetangga. Ki Lurah yang awalnya penuh dedikasi itu di akhir jabatannya tergelincir oleh bujuk rayu keluarga dan para pendukungnya yang silau untuk mengangkangi kekuasaan. Jika sudah berkuasa tidak mau diganti, itu istilah politiknya.
Petruk tidak mau hal itu terjadi pada keluarganya. Orang yang berbuat baik dan tulus hati itu bakal teruji hingga mati. Ia melakukan semua itu tidak demi pencitraan diri, tapi panggilan hati untuk komitmen dan tanggung jawab demi memajukan ekonomi kerakyatan. Ilmu yang diperolehnya dari organisasi nirlaba itu untuk diteruskan dan diterapkan ke UMKM.
Tidak hanya itu, jikapun ia mampu mengontrol dan mengendalikan diri, belum tentu anggota keluarga dan kerabatnya yang lain, untuk tidak ikut cawe-cawe agar memperoleh kue kekuasaan atau kekayaan.
Ia sadar-sesadarnya dan mahfum, bahwa hidup berguna bagi sesama itu tidak identik lewat jabatan di pemerintahan. Tapi yang utama dan penting itu adalah sumbangsih kita bagi bangsa dan negara.
Ia juga terbiasa hidup bebas dan tanpa ikatan aturan protokuler yang kaku. Sehingga membelenggu gerak dan pemikiran kreatifnya. Apalagi untuk sekadar berbasa-basi agar ABS, alias bos senang.
Sekali lagi, ia pantang menjilat pantat pemimpin agar diberi kue kekuasaan. Apalagi dituntut untuk mengumpulkan dan menyerahkan rente agar makin disayang Bos, tapi melukai nurani sesama.
Sejatinya, pemimpin yang minta dilayani itu cenderung matre dan merugikan banyak orang. Sedang yang berjiwa melayani itu datang dari hati untuk mengabdi dan memajukan bangsa serta negara.
Berani bersikap jujur dan benar itu memerdekakan jiwa, untuk hidup selamat dan bahagia!
Mas Redjo

