“Hidup bersama sebagai Gereja berarti jadi ‘batu-batu hidup’ yang disatukan oleh kasih, dibentuk oleh sabda, dan ditopang oleh rahmat-Nya.”
Hari ini, Gereja merayakan pesta pemberkatan Basilika St. Yohanes Lateran, bukan sekadar bangunan megah, melainkan simbol kesatuan seluruh Gereja Katolik di dunia. Basilika ini adalah “induk dan kepala dari semua Gereja,” tanda yang mengingatkan kami, bahwa Tuhan adalah dasar dan pusat kehidupan Gereja-Nya.
Sejatinya Allah mengundang kami melihat melampaui keindahan fisik gedung Gereja, menuju makna rohaninya. Setiap Gereja di dunia ini hanyalah bayangan dari rumah surgawi, ‘Yerusalem Baru’, tempat Allah bersemayam selamanya bersama umat-Nya.
Nabi Yehezkiel melihat air kehidupan mengalir ke luar dari Bait Allah, memberi kesuburan dan kehidupan di mana pun ia mengalir. Begitu pula rahmat-Nya bekerja; menghidupkan yang layu, memperbarui yang lemah, dan menyatukan yang tercerai.
Pemazmur meneguhkan kami: “Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, penolong yang selalu hadir dalam kesesakan.” Ketika dunia dilanda guncangan dan perpecahan, Allah tetap jadi sumber damai dan keteguhan kami. Di dalam-Nya, kami menemukan dasar sejati bagi kesatuan dan harapan.
Santo Paulus mengingatkan, bahwa kami adalah bangunan Allah, bait Allah yang hidup. Roh-Nya berdiam di dalam diri kami. Maka, jika kami milik Kristus, kami juga milik satu sama lain. Hidup bersama sebagai Gereja berarti jadi ‘batu-batu hidup’ yang disatukan oleh kasih, dibentuk oleh sabda, dan ditopang oleh rahmat-Nya.
Dalam Injil, Yesus menyucikan Bait Allah dan menyingkapkan makna terdalamnya: “tubuh-Nya sendirilah Bait yang sejati.” Dialah tempat perjumpaan antara manusia dan Allah, sumber pengampunan dan kehidupan baru. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus membangun Bait yang baru: Gereja, Tubuh-Nya yang hidup di dunia.
Ya, Allah, ajarilah kami menyadari, bahwa Gereja bukan milik kami, tetapi karya Roh Kudus yang terus membangun kami jadi satu tubuh dalam Kristus. Pulihkan kami dari perpecahan, jauhkan kami dari kesombongan, dan jadikan kami batu-batu yang kokoh dalam cinta kasih.
Ketika tembok perbedaan muncul di antara kami, ingatkan kami pada sabda ini:
“Tuhan semesta alam menyertai kita, benteng pertahanan kita ialah Allah Yakub.”
Kiranya hidup kami jadi tanda kesatuan dan kemuliaan-Mu di dunia, sampai kami bersama Engkau di Yerusalem Baru, kota-Mu yang kekal.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

