| Red-Joss.com | Pribadi yang kelihatannya ceria itu belum tentu bahagia. Yang tampil aktif itu belum tentu percaya diri. Yang tampak saleh itu belum tentu suci. Yang tampak baik itu belum bisa dipastikan ia akan baik untuk selamanya. Begitu pula yang tampak setia itu belum tentu bisa dipegang bicaranya.
Itulah sebabnya, kita diajak belajar untuk jeli dan peka membedakan. Membedakan itu tidak dengan kemarahan, kebencian, atau dengan rasa tidak suka. Tapi kita membedakan itu dengan dasar etika, moralitas, dan standar kebenaran.
Jika kita benar-benar bahagia, maka lahir-batin juga bahagia. Kita percaya diri, karena lahir batin kita sudah selesai dengan diri sendiri.
Jika kita baik, maka lahir batin kita dikenal baik oleh orang-orang di sekitar. Kita setia, karena tidak ada kepalsuan atau pengkhianatan dalam diri ini. Begitu pula, jika kita hidup menuju kekudusan agar hidup kita makin berkenan kepada-Nya.
Mengapa harus bisa membedakan? Karena ujung dari peziarahan hidup kita di dunia ini adalah kematian. Jangan sampai kita mampu membedakan, ketika berada di ujung kematian. Sehingga semua itu terlambat.
Sebab, setelah kematian, kita tidak bisa memilih, kecuali hanya berserah! Kita bisa melihat: ada Surga dan Neraka.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

