Rabu Abu membuka masa Prapaskah dengan ajakan yang jelas, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati” (Yl. 2: 12). Nabi Yoel menekankan, bahwa pertobatan sejati bukan soal simbol luar, melainkan perubahan hati. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu.” Pertobatan adalah undangan untuk kembali ke pangkuan Allah. Dalam bacaan kedua Paulus menyerukan, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah!” (2 Kor. 5: 20).
Kita semua dipanggil untuk memperbarui relasi dengan Tuhan dan sesama, bukan nanti, tapi “sekarang juga.” Waktu rahmat itu adalah hari ini. Tidak ada pertobatan sejati, jika kita hanya diam dan menunda. Pertobatan adalah panggilan untuk bergerak: berdamai, memaafkan, dan membangun kembali hubungan yang rusak.
Yesus memperingatkan kita agar jangan menjadikan tobat itu sebagai tontonan. Sedekah, doa, dan puasa itu harus dilakukan dalam keheningan hati, bukan demi dilihat orang lain (bdk. Mat. 6: 1-18). Masa Prapaskah adalah saat untuk menata ulang motivasi hidup kita: Apakah kita melakukan yang baik untuk memuliakan Allah, atau sekadar mencari pengakuan? Ketulusan dalam praktik rohani jadi cermin kedalaman iman kita.
Di tengah dunia yang penuh kepalsuan, pertobatan sejati jadi tanda harapan. Tobat bukan hanya soal kesalehan pribadi, melainkan juga memperbaiki relasi sosial: tidak menyebar hoaks, tidak bersikap egois, dan melawan budaya korupsi. Tobat adalah keberanian berubah dan mengubah dunia di sekitar, mulai dari hal kecil.
Mari memasuki masa Prapaskah ini dengan semangat baru: hati yang hancur, karena dosa, tapi terbuka pada rahmat. Tuhan menantikan dengan pelukan kasih agar kita kembali kepada-Nya dengan segenap hati.
“Ya, Tuhan, arahkanlah kami untuk melakukan pertobatan sejati. Amin”
Ziarah Batin

