“Melihat dan menunggu sekadar untuk bertahan itu kesia-siaan. Pertahanan yang efektif itu adalah menyerang secara terukur untuk jadi pemenang.” -Mas Redjo
Strategi menyerang itu diterapkan, karena saya tidak mau menunggu dalam ketidakpastian, apalagi di saat ekonomi sedang lesu dan sulit.
Caranya adalah, saya harus berani berubah untuk selalu perbarui diri, beradaptasi, dan mencari solusi jitu, karena saya ingin jadi pemenang!
Dulu konsumen itu mudah dirayu dengan diiming-imingi menu cuci gudang, gebyar diskon, dan seabrek hadiah lainnya. Kini, realitasnya terjadi krisis ekonomi dan krisis pembeli, sehingga seluruh sektor usaha itu mandeg.
Tawaran perbankan dengan bunga rendah, juga tidak disambut gegap gempita oleh pelaku usaha. Bahkan dibiarkan berlalu, mubazir dalam senyap.
Begitu pula saya yang semula hobi hutang bank untuk pengembangan usaha: “Hutang itu tantangan dan sukses itu jawaban.” Saya tidak mau berhutang, tapi menerapkan ‘sdp’, sumber daya pertemanan itu untuk mendongkrak penjualan.
Saya juga tidak mau ‘wait and see’. Karena hanya membuang-buang waktu yang tidak jelas berakhirnya. Pertahanan yang efektif di tengah krisis ekonomi adalah menyerang secara terukur dan tepat sasaran yang berefek ganda untuk menarik pelanggan mampir dan nongkrong di resto saya.
Menggunakan bantuan ‘sumber daya pertemanan’, saya mengatur strategi dengan varian alternatif. Di antaranya mempromosikan lewat grup-grup WA, medsos, youtuber, dan hadiah dari sponsorship. Varian menu juga selalu diperbarui agar resto jadi tempat nongkrong idaman dan dirindukan.
Dibantu teman yang youtuber beken dan gencar promosi di sosmed secara terus menerus, saya percaya dan ainul yaqin akan kekuatan promosi digital. Karena perjuangan yang gigih itu tidak mengingkari hasil.
Gusti amberkahi.
Mas Redjo

