| Red-Joss.com | Dalam Lukas 24: 1-4, Yesus berkata: “Sesungguhnya, janda miskin ini telah memberi lebih banyak daripada mereka semua.” 2 peser itu lebih banyak dari 1 koin (milliar).
Dalam perikop ini, Lukas ingin menpertontonkan kontras antara spiritualitas ahli-ahli Taurat dengan spiritualitas janda miskin. Spiritualitas ahli Taurat ini, ‘mentalitas bossy’, yang selalu maunya disaksikan oleh banyak orang, tapi mereka tidak peduli apakah sebetulnya menjadi lebih dekat Tuhan atau tidak?
Memang dalam praktek zaman dulu, ketika orang kaya memberikan persembahan, yang diberikan itu berupa koin, banyak sekali jumlah koin yang diberikan, sangat fenomenal sampai-sampai diiringi dengan terompet. Janda dalam kisah ini tentu ‘hopeless’ mengharapkan terompet. Mau pakai terompet seperti terompet anak SD saja dia tidak layak, karena hanya memberi dua peser.
Ini kontras dengan spiritualitas ahli Taurat yang selalu ingin membanggakan dirinya, ditonton, ingin menempati tempat yang terhormat dalam masyarakat, sebagai orang terpandang dibandingkan dengan janda miskin ini, yang termasuk dalam golongan kaum marjinal, diabaikan orang.
Akan tetapi justru, karena dia diabaikan orang maka dia bisa memberi dengan betul-betul tulus.
Mungkin kita pernah merasa seperti janda itu. Bangga dan bahagia, ketika kita bisa melakukan perbuatan baik yang tidak dilihat orang lain, tapi eh … ternyata yang diberikan tangan kanan masih dilihat tangan kiri, begitu kan ya?
Memang tidak ada orang lain yang memuji, tapi memuji diri sendiri. Karena tidak ada yang melihat, akhirnya memuji diri sendiri. Dalam Alkitab dicatat, jika kamu memberi dengan satu tangan, tangan yang lain tidak usah tahu, bukan hanya orang lain perlu tahu, tangan yang lain pun tidak perlu tahu, bagaimana bisa?
Ini sulit ya? Intinya adalah menyembunyikan diri dari diri sendiri, itu bukan hal yang mudah. Sering kita dengar, “it is not my intention but the glory of God,” tapi gulung koming, ketika nama tidak tercantum.
Ketika memasukkan uang persembahan, janda miskin ini tidak ada yang melihat dan memperhatilan. Dia tulus mempersembahkan kepada Tuhan, tapi dia sendiri juga tidak memuji diri sendiri, dia melupakan dirinya sendiri, melupakan apa yang dia kerjakan, dia menjadi orang yang ‘self forgetful’ bukan pikun, tapi tanda kesadaran yang sangat tinggi tentang dirinya. Nah, ‘self forgetful’ itulah yang kontras dengan spiritualitas ahli-ahli Taurat ini. ‘Self forgetful’ dari semua hal yang kita kerjakan dalam pelayanan.
Makin besar kesadaran, bahwa kita banyak berjasa, makin tidak mudah menjadi ‘self forgetful’. Harus makin sering berlutut (lama) di depan tabernakel.
Salam meningkatkan kualitas ‘self-forgetful’.
…
Jlitheng

