Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mendengar pun dapat bermakna melihat lewat sekeping hati.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Panca Indra Manusia
Hanya makhluk manusia yang memiliki alat indra (panca indra), berupa: mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Dengan fungsi spesialnya: “mata berfungsi untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk membaui, lidah untuk mengecap, dan kulit untuk meraba.”
Sebuah Sikap Peduli
Dikisahkan di suatu hari, seorang Kakek beserta Cucunya sedang bersantai ria. Tidak lama berselang, sampailah mereka di depan pagar sebuah taman bunga. Di sana tampak bunga-bunga mawar merah itu sedang mekar. Maka, spontan seru sang Cucu, “Kek bisakah Kakek mencium betapa harumnya aroma dari bunga-bunga mawar ini?”
Kemudian keduanya mendengar suara seorang Nenek tua yang sedang bersantai di beranda. Terdengar ucapan sang Nenek itu, “Ambillah sebanyak yang kamu inginkan.”
Maka, kedua orang itu segera memetik masing-masing setangkai mawar indah itu dan sambil tidak lupa berterima kasih kepada sang Nenek itu.
Nenek itu berkata perlahan, “Saya menanamnya dengan tujuan untuk membuat orang lain senang. Saya sendiri tidak bisa melihat indahnya bunga-bunga itu, karena saya buta.”
(Kutipan dari Berbagai Sumber)
Sebuah Persembahan kepada Dunia
Sungguh betapa indahnya hidup ini, seandainya banyak orang yang bersikap demikian di dalam arena kehidupan ini. Bukankah Nenek dalam kisah indah ini, ternyata memiliki tujuan yang sangat mulia di dalam kehidupannya, yakni ia sangat ingin agar ‘orang lain merasa senang.’ Padahal di sisi yang lain, si Nenek ini justru seorang ‘tunanetra’ (disabilitas netra).
Mencermati makna dan esensi dasar dari kisah nan heroik ini, terbetiklah dalam sanubari sunyi saya bahwa sang Nenek ini, justru telah ikhlas ‘mempersembahkan hidupnya bagi keharuman dunia ini.’
Sungguh betapa indah dan mulianya intensi hidupnya ini. Karena bukankah di kala dunia ini berlomba-lomba untuk merebut dan memenangkan sebuah persaingan; tapi Nenek ini justru mau ‘mempersembahkannya bagi dunia.’
Konklusi
Dari balik potret kehidupan lewat kisah teramat manis ini, saya mengonklusikan, bahwa “bukankah proses mendengar yang biasanya lewat indra (telinga), pun dapat bermakna, bahwa mendengar pun bisa lewat sekeping hati?” Itulah yang disebut kepekaan seorang anak manusia.
“Bukankah wadah hati manusia adalah sebuah bejana kebijakaanaan?”
Kediri, 20 Juli 2025

