“Ya, Allah, terimalah persembahan hati ini, karena hanya ini yang aku punya …,” gumam lelaki tua itu lirih. Dengan tertatih ia melangkah menuju pohon Sono yang rimbun. Dihelanya nafas panjang. Desau angin yang sejuk mengusap wajahnya yang keriput. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di pohon.
Seorang lelaki muda mengandeng tangan anaknya sambil bercerita entah apa.
“Mungkinkah cucuku sudah sebesar itu?” gumam lelaki tua itu pada diri sendiri. Lelaki muda itu mengingatkan pada anak bungsunya.
Serasa ada yang menoreh dadanya, setelah sekian lama ia meninggalkan rumah. Keputusan yang teramat berat, tapi ia menemukan kebebasan yang membahagiakan. Bahagia? Ya, ketika ia melihat orang yang dibantunya itu tertawa renyah dan tulus.
Perasaan yang belum pernah dialami, ketika aktif di dunia bisnis. Ia menyumbang dari kelebihannya bukan dari kerelaannya. Apalagi sejak istri mulai mengontrol besaran sumbangan dalam berbagi. Katanya, mendahulukan yang penting. Alasannya, usaha makin menurun. Semua mesti dirembug.
Awalnya, ia merasa tersinggung. Ia yang membangun usaha dan membesarkan. Karena malu ribut, ia memilih untuk diam dan mengalah. Menyimpan semua itu dalam hati dan menyerahkannya pada Bunda Maria dengan berdoa ‘Tesera’. Mohon kekuatan, kesabaran, dan kerendahan hati.
Ternyata kekosongan hatinya itu tidak terpuasi tanpa berbagi dan memberdayakan orang lain. Ia ingat, ketika muda dulu ia pernah bertugas di pedalaman dalam karya sosial. Ia juga pernah memotivasi seseorang dengan membuka konsep usaha koperasi sembako dan mensurvei kebutuhan warga dan memasoknya. Sifat dasar manusia yang ingin dilayani itu jadi acuan untuk pengembangan usaha. Alhasil, orang itu tidak hanya sukses di bidang koperasi, bahkan jadi agen besar sembako.
Berorientasi untuk selalu berbagi, ia lalu mengembangkan kemampuannya untuk jadi ‘youtuber’ dalam berinovasi mengali ide-ide kreativitas sebagai sumber pendanaan. Setelah istrinya berpulang, karena sakit, ia lalu memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan estafet usaha itu pada anak-anaknya.
“Menghembuskan roh motivasi,” itulah yang jadi semangatnya untuk menyusuri kampung, kota, dan pulau. Apa artinya hidup ini, jika kita kehilangan rasa peduli, empati, dan berbagi pada sesama?
Berkat Allah, ia dilimpahi kesehatan, semangat, dan kemudahan sehingga semua berasa lancar dan membahagiakan! Selalu bersyukur adalah modal utamanya untuk tetap semangat, meskipun umur tidak bisa dibohongi.
Tiba-tiba ia rindu dengan keluarga besarnya. Bagaimana dengan anak dan cucunya? Kerinduan yang membuat dadanya menyesak sakit. Ia menarik nafas panjang.
“Ya, Allah, aku lelah…,” gumamnya lirih. Terbayang keluarga besarnya yang bahagia menyambutnya di rumah dengan wajah cerah sumringah. Ia memejamkan mata. Bibirnya tersungging senyum. Lalu tubuhnya menyandar di pohon Sono dalam damai…
Mas Redjo

