Pada zaman pelayanan publiknya, Yesus Kristus menjadikan Kapernaum sebagai kota-Nya. Semua kegiatan pengajaran, mujizat-mujizat, pemilihan para murid dimulai dan berkembang di sana. Tempat ini aman buat Yesus untuk bekerja maksimal. Ia menyingkir ke sini, setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, dan itu berarti Ia meninggalkan tempat sebelumnya yang penuh dengan tekanan dan ancaman yang datang dari para penguasa.
Kapernaum adalah kota idaman. Kota itu terletak di seberang Sungai Yordan. Semua yang didapatkan dan dibuat di seberang Yordan adalah istimewa. Hal ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, ketika bangsa Israel melewati Yordan. Di seberang Yordan adalah tanda sebuah kehidupan baru, di mana Yesus Kristus melakukan tugas-Nya untuk membangun persekutuan.
Kekuasaan yang dipakai untuk mempersatukan orang-orang untuk bersama Dia dan di dalam Kerajaan Allah ialah dari Bapa yang mengutus-Nya. Sabda dan tindakan Yesus bertujuan untuk membangun persekutuan sejati orang-orang yang Ia panggil dan pilih sebagai bagian dari Kerajaan Allah. Ia memulai menanamkan benih persekutuan itu dari panggilan para murid yang pertama. Pada waktunya mereka dijadikan kedua belas Rasul yang jadi pilar-pilar Gereja. Bersama dengan Bunda Maria, saat Pentakosta, mereka mewujudkan terbentuknya Gereja sebagai tanda persekutuan sejati di dalam dunia.
Cinta kasih adalah ajaran utama Yesus Kristus dan jadi hukum Tuhan yang paling utama. Cinta yang mempersatukan, tidak untuk mencari perbedaan atau bahkan memecah belah. Meskipun perbedaan-perbedaan itu adalah kodrat dasar kehidupan di dalam dunia ini, tapi cinta kasih selalu bekerja untuk menjadikan perbedaan itu mendapatkan jalan untuk membangun persatuan. Dari Kapernaum, Tuhan Yesus merintis persekutuan itu dengan potensi perbedaan di antara para Rasul yang sangat mencolok. Tapi mereka mendapatkan Tuhan dan Guru mereka sebagai cinta yang menyatukan.
Santo Paulus merenungkan semangat persatuan yang diwariskan Yesus Kristus. Komunitas umat Allah yang dibangun oleh Paulus dan rekan-rekannya diharapkan tetap setia kepada Yesus Kristus yang menjadikan cinta di atas segala perbedaan. Kepada mereka Paulus menasihatkan, supaya hidup seia sekata, dan jangan ada perpecahan di antara mereka. Peringatan ini jadi sangat kuat, mengingat pengalaman Paulus sendiri bersama Petrus dan para Rasul lainnya. Kita semua memang memiliki aneka perbedaan, tapi di dalam satu Tuhan Yesus, kita bersatu.
“Ya, Tuhan, semoga persekutuan di antara kami makin dikuatkan dan jadikan kami saksi-saksi-Mu yang setia. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

