“Bakti anak pada orangtua itu tidak dapat diukur dengan materi, tapi dari besar kepedulian kasihnya.” -Mas Redjo
…
Perhatian kasih dari anak menantu itu tampak kecil dan sepele, tapi bagi saya amat spesial.
Rabo malam saya hendak mencari makan ke warung di dekat rumah. Rencananya makan sambil ngobrol dengan si empunya itu asyik. Karena saya di rumah sendiri. Istri dan anak bontot pergi ke S untuk menengok adik ipar yang hendak dioperasi, anak ke 2 ke Medan. Sedang tawaran anak sulung agar saya mengungsi ke rumahnya itu terpaksa ditolak. Maklum, saya mempunyai beberapa hewan piaraan yang tidak mungkin ditinggal, juga tidak mempunyai ART.
Ketika saya hendak menutup pintu untuk membeli makan malam, anak menantu menelepon memberi tahu, bahwa ‘go-food’ kiriman paket makan menunggu di depan pagar.
Hati saya serasa dielus dan nyess dengan perhatiannya yang spontan, tapi sangat bermakna bagi saya. Apalagi cuaca sedang kurang mendukung, mendung dan berangin.
Kepedulian dan perhatian anak menantu itu tidak sebatas pada kami, mertuanya. Tapi juga pada adik ipar, dan keluarga besar saya yang lain. Ia cepat membaur, ramah, dan akrab.
Meski anak menantu itu keturunan Tionghoa, tapi sangat ‘njawani’. Hal itu yang membuat saya langsung sreg dengannya, ketika pertama kali dikenalkan oleh anak.
Selain mandiri dan pekerja keras, nilai plus yang utama padanya adalah, ternyata ia mau dibaptis untuk mengikuti agama calon suaminya.
Saya sangat bersyukur, karena pernikahan anak sulung itu mampu mendekat-akrabkan hubungan kekerabatan dua keluarga besar untuk saling kunjung-mengunjungi. Sungguh persaudaraan kasih nan indah!
…
Mas Redjo

