“Bahagia sekarang itu bukan hadiah, tapi proses luka dan perjuangan.” -Rio, Scj
Kita dilatih bukan dari keberuntungan, melainkan oleh pagi-pagi yang penuh dengan ketakutan dan cemas serta malam-malam yang selesai tanpa tidur. Sukses itu dibentuk bukan dari tepuk tangan, pujian, dan bukan juga jalan mulus. Yang membentuk sukses itu rasa takut yang harus ditelan. Rasa pahit yang diubah jadi obat dan kesepian yang diubah jadi kesendirian penuh makna.
Saat dunia diam, tapi kita riuh bergulat dengan pikiran, pilihan, dan keputusan. Tidak semua bisa dibagi, bahkan diceritakan, hanya bisa kita telan dengan hati yang kuat dalam iman. Kadang ada saat di mana bangun itu salah. Malam di mana tidur terasa mewah. Semua berjalan begitu saja, waktu tidak pernah bertanya kita siap atau tidak, dia akan terus berputar. Di titik yang paling hancur tidak ada pilihan selain bertahan dan menyerahkan diri pada Tuhan.
Ingatlah pesan tidak penting ini, jika kaki tidak kuat lagi melangkah, tangan tak lagi kuat berbuat, dan tubuh tak lagi tegar berdiri. Ingat ada lutut untuk bersujud, tangan terkatup, kepala tertunduk bersujud pada Tuhan yang mampu mengubah segalanya. Di sinilah mukjizat terjadi, pelan tanpa sadar yang rapuh mulai mengeras, yang takut mulai kebal, dan yang tanpa tujuan menemukan jalan.
Bila sekarang orang melihat sukses kita, mereka pikir itu hoki. Nyatanya yang terlihat tak seindah prosesnya. Jika mereka tahu betapa hancurnya dan seberapa keras perjuangan kita, mendengar saja sudah ngilu, apalagi mencoba. Sukses sekarang itu bukan instan dan hadiah, tapi luka-luka yang membuat kita belajar berdiri. Gagal yang membuat kita berani melangkah. Keraguan yang membuat kita berani memulai.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

